Bekal Menyambut Bulan Ramadan

Tanpa disadari waktu terus berjalan, hari berganti hari dan bulan berganti bulan. Hingga saat ini kita berada di penghujung bulan Sya’ban. Artinya bulan Ramadhan sebentar lagi akan menyapa kaum muslimin.

Dialah tamu yang selalu dinantikan kedatangannya bagi jiwa-jiwa yang merindukan ketaatan. Bagaimana tidak? Sedangkan ia adalah bulan yang istimewa lagi penuh berkah, di mana segala kebaikan di dalamnya dilipatgandakan.

Bulan Ramadhan, selain merupakan kabar gembira bagi orang yang beriman ternyata dia juga cambuk bagi jiwa-jiwa yang lalai. Di samping ia merupakan bulan rahmat, maghfirah (ampunan), Ramadhan juga merupakan peringatan bagi jiwa-jiwa yang tertidur, tidak menyadari akan keagungan Ramadhan.

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya): “Celaka seseorang yang mendapati bulan Ramadhan sampai selesai, namun dosa-dosanya tidak diampuni.” (HR. Tirmidzi)

Sehingga di dalam menyambut tamu istimewa tersebut, dibutuhkan persiapan yang baik, bahkan dari jauh-jauh hari sekalipun.

Dahulu para salafushalih (generasi terdahulu) mereka berdoa sejak enam bulan sebelum Ramadhan tiba, agar mereka diberi kesempatan bertemu dengan tamu istimewa ini.

Ini menunjukkan besarnya perhatian mereka terhadap bulan yang agung ini. Sehingga ketika tiba bulan Ramadhan mereka benar-benar siap dan menjadi yang terdepan di dalam melakukan ketaatan.

Lalu bagaimana dengan persiapan kita?

LANGKAH-LANGKAH MENYAMBUT BULAN RAMADHAN

Berikut ini di antara kiat-kiat yang hendaknya dilakukan seorang muslim di dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan:

Pertama, Mempelajari hukum-hukum berkaitan dengan bulan Ramadhan, keutamaannya, amalan-amalan utama di dalamnya beserta tatacara melakukan amalan tersebut dengan benar.

Di antara keutamaan bulan Ramadhan sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda (artinya): “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan yaitu bulan yang diberkahi. Allah telah mewajibkan kepada kalian berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu dibuka pintu-pintu surga dan ditutup pintu-pintu neraka. Syaithan-syaithan dibelenggu. Dan di dalamnya terdapat satu malam yang lebih mulia dari pada seribu bulan. Maka barang siapa yang terhalang dari (melakukan) kebaikan di dalamnya, sungguh ia telah terhalang dari banyak kebaikan.”

Kedua, Berbahagia dengan kedatangannya, menyambut dengan penuh antusias. Bagaimana tidak? Sedangkan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan.

Ramadhan juga merupakan salah satu wujud kasih sayang Allah kepada para hambanya, dengan dijadikannya sebuah momen untuk berpacu dalam meningkatkan ibadah yang luar biasa.

Rasa cinta dan bahagia terhadap kebaikan ini yang nantinya menjadi pendorong kuat untuk banyak melakukan ketaatan di dalamnya. Allah berfirman (artinya):

“Katakanlah dengan karunia dan rahmat Allah hendaknya mereka merasa bahagia. Yang demikian itu lebih baik dari pada yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus:58)

Bagaimana seseorang bisa menjadi cinta? Tentunya dengan mengenalnya, mempelajarinya dan mengetahui keistimewaannya, yang itu semua kembali pada poin pertama.

Ketiga, Bersiap diri, yaitu dengan mempersipkan segala sesuatu yang mendukung ibadah di bulan Ramadhan.

Karena bersiap diri merupakan bukti nyata lurusnya atau benarnya keinginan hati seseorang. Allah berfirman (artinya):

Kalaulah mereka benar-benar ingin pergi berperang, niscaya mereka akan melakukan persiapan. (QS. At-Taubah:46)

Ketahuilah bahwa melakukan ketaatan itu membutuhkan proses pemanasan, perlahan, sedikit demi sedikit sampai benar-benar terbiasa melakukannya.

Terlebih di bulan Ramadhan, dimana banyak amalan kebaikan yang akan dilakukan dan beragam pula jenisnya. Sehingga dibutuhkan jiwa dan raga yang benar-benar siap menghadapinya.

Keempat, Bertaubat, yaitu membersihkan diri dari dosa-dosa. Memperbanyak taubat adalah di antara cara terbaik dalam menyambut bulan Ramadhan.

Mengapa demikian? Pada bulan Ramadhan seseorang hamba dianjurkan banyak melakukan ketaatan. Nah, taukah anda bahwa dosa-dosa dapat menghalangi seseorang dari melakukan ketaatan?

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,

Di antara dampak sebuah dosa adalah seseorang terhalang melakukan ketaatan. Kalaulah tidak ada hukuman bagi pelaku dosa kecuali dosa tersebut mencegahnya dari melakukan ketaatan (sebagai balasan bagi dosa tersebut), lalu menghalanginya dari jalan ketaatan yang kedua, ketiga dan seterusnya. Sehingga ia terhalang dari banyak kebaikan. Maka setiap pintu kebaikan yang tertutup akibat dosa tersebut hakikatnya jauh lebih baik baginya daripada dunia dan seisinya. Bagaikan seseorang yang mengkonsumsi makanan yang mengakibatkan dirinya terbaring sakit, yang mana sakit tersebut menghalanginya dari menikmati lezatnya makanan-makanan yang sejatinya lebih baik dari makanan yang sebelumnya ia konsumsi.” (Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’)

Hakikatnya seseorang bisa melakukan ketaatan adalah murni karunia dan taufik dari Allah, sehingga ia dimudahkan melakukannya.

Maka selayaknya bagi seorang muslim mempersiapkan diri dengan membawa hati yang bersih. Sehingga ia dimudahkan dalam menjalankan ketaatan.

Kelima, Berdoa, doa adalah sejata orang yang beriman.

Maka selayaknya bagi seorang muslim untuk memohon kepada Allah agar diberi kesempatan beribadah dan dimudahkan di bulan Ramadhan.

Dan hendaknya ia tidak berputus asa dan tetap optimis dalam memanjatkan doa, karena dua hal tersebut adalah sebab diijabahinya sebuah doa.

Wallahu ta’ala a’lam

Ditulis oleh: Ahmad Taqiyya, dari artikel ppmimadinah

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.