Kegagalan Tuduhan Negara Sarang Teroris Untuk Arab Saudi

Menarik membaca berita terbaru janji hadiah $ 1 juta dari pemerintah Amerika Serikat (AS) bagi siapa saja yang dapat memberikan informasi keberadaan Hamza bin Laden, putra pemimpin Al-Qaeda sebelumnya, Osama bin Laden.

Hamza berusia sekitar 30 tahun, sejak 2017 telah ditetapkan sebagai teroris global yang mengancam akan melakukan serangan terhadap Amerika Serikat dan sekutu Baratnya.

“Sejak Agustus 2015, ia telah merilis pesan audio dan video di internet menyerukan pengikutnya untuk melancarkan serangan terhadap Amerika Serikat dan sekutu Baratnya,” papar Departemen Luar Negeri AS.

Hamza diperkenalkan oleh pemimpin baru Al-Qaeda Ayman Al-Zawahiri dalam sebuah pesan audio pada tahun 2015. Dia telah menyerukan melakukan serangan di negara-negara Barat sebagai balas dendam kepada AS atas pembunuhan ayahnya.

Lantas bagaimana sikap Arab Saudi atas penetapan warganya yang menjadi orang yang paling dicari oleh AS?

Ternyata sejak 22 Februari lalu, kewarganegaraan Hamza bin Laden dihapus oleh pemerintah Saudi. Artinya, Hamza tidak berhak lagi mendapat perlindungan dan jaminan sosial oleh Saudi.

Sikap jelas dan tegas ini sebenarnya bukan baru pertama kali ini untuk menunjukkan posisi Arab Saudi melawan terorisme. Meskipun, sebagian orang menganggap tokoh semacam Osamah dan kelompoknya merupakan “pahlawan” atau yang sedang memperjuangkan agama Islam.

Arab Saudi sendiri, sudah terlalu kenyang menjadi sasaran aksi brutal dan biadap terorisme yang mengatasnamakan ajaran Islam.

Yang paling berkesan dalam lintasan sejarah adalah pembajakan Masjid al-Haram oleh kelompok ekstrimis, kelompok Juhayman al-Otaibi, yang terjadi 1979.

Aksi terorisme yang berdampak global juga terjadi pada tahun 1996, saat sebuah bom mengguncang kota Khobar, Wilayah Timur Arab Saudi.

Terlalu banyak jika diurai aksi terorisme di dalam negeri Arab Saudi dari waktu ke waktu. Hal ini yang melatarbelakangi Saudi bertindak cepat dan tegas atas segala bentuk gejala terorisme.

Ketegasannya memberantas kelompok ekstremisme ini pula yang pernah mengancam nyawa Muhammad bin Nayef rahimahullah, Menteri Pertahanan Saudi kala itu, dengan peledakan bom di rumahnya.

Perang melawan terorisme terus berlanjut. Saudi pun tidak pandang bulu untuk mencegah terjadinya teror.

Banyak langkah dilakukan, seperti rangkaian penangkapan orang-orang yang dituduh terlibat terorisme hingga pelarangan beberapa organisasi yang disinyalir yang menghasilkan pemikiran-pemikiran ekstrem.

Tidak semua orang setuju dengan cara Saudi menjaga negaranya dari ancaman terorisme global. Sebagian lain mencemooh bahwa kebijakan Saudi tersebut justru semakin membuktikan bergesernya pendulum menuju sekularisme dan liberal.

Tetapi di sisi yang berbeda, masih gencar tudingan Saudi sebagai negara yang lahir dari asil pemberontakan kekhilafahan Utsmaniyah sekaligus produsen teroris global sehingga melekat julukan wahabi takfiri.[]

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.