Pangeran Turki al-Faisal: “Berita Palsu Merupakan Alat Propaganda, Bukan Saja Antara Individu, Tetapi Juga Negara”

Di tengah maraknya berita hoaks yang menyerang Arab Saudi, Pagi Rabu (27/2) kemarin di Riyadh, Forum Media MISK dibuka membahas penggunaan media untuk menangani kekacauan dan menjaga stabilitas.

Hadir sebagai pembicara pada hari pertama forum MISK, Pangeran Turki Al-Faisal, Ketua Yayasan Pusat Penelitian dan Studi Islam King Faisal.

Dalam sesi pertama yang bertemakan “Motivasi untuk Berkreativitas”, Turki mengatakan, “berita palsu merupakan alat propaganda, bukan saja antara individu, tetapi juga antara negara.”

Sebagai politisi dan diplomat senior, Turki mengaku bahwa dirinya memiliki akun rahasia di media sosial agar tidak diretas orang. Akun tersebut digunakannya untuk mengikuti update berita yang beredar di dunia maya.

“Saya membuka akun di Twitter di pagi hari dan malam sebelum tidur,” akunya. Meskipun dia mengatakan, “Saya masih suka nuansa kertas koran dan bau tinta.”

Turki juga mengingatkan bahwa sejak awal berdirinya Kerajaan Arab Saudi sampai hari ini,masih berada di atas satu jalur dan cara yang satu.

“Saya pikir sudah tidak ada lagi manfaat dari Kementerian Informasi; karena ini bisa menjadi penghalang untuk kepentingan publik.” Kata Turki.

“Ketika orang sudah bisa mengangkat telepon, semua orang dapat menanggapi mengomentari dan menjawab penjelasan kebenaran. Untuk itu saya menyerukan penutupan Kementerian Informasi.” Jelasnya lebih lanjut.

Turki kemudian menjelaskan bahwa diplomasi melalui media sosial kini telah tersedia secara luas untuk semua orang. “Akan tetapi perannya belum dapat menggatikan peran diplomatik profesional melalui duta besar, pakar dan pekerja di Kementerian Luar Negeri dan lembaga pemerintah lainnya,” paparnya.

“Peredaran informasi hari ini tidak dapat dicegah, meskipun jika ada rahasia negara yang bocor, maka usaha untuk mencegahnya tidak akan berhasil. Tetapi sebaiknya dibuatkan undang-undang yang dapat mengaturnya.” Jelas Turki.

Pangeran Turki juga mengingatkan bahwa perang sesungguhnya di dunia nyata bisa diawali dari perang di dunia maya. “Teroris juga menggunakan media sosial di dunia maya untuk menyebarkan ketakutan, yang sebelumnya menggunakan pisau dan senjata api,” katanya lebih lanjut.

MISK yang mengadakan forum media ini, merupakan lembaga sosial di bawah naungan Pusat Inisiatif Yayasan Mohammed bin Abdulaziz. Peserta yang hadir dalam forum tersebut akan membahas faktor-faktor industri opini publik dan menyoroti realitas transisi media dari cara tradisional ke cara yang instan, serta penyebaran informasi lebih cepat daripada sebelumnya.

Forum tersebut akan dihadiri pembicara pakar dari dalam negeri Arab Saudi dan internasional di bidang strategi dan aktivis media sosial. sbq

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.