Bazar Sharqiya, Even Tahunan Masyarakat Indonesia di Wilayah Timur Arab Saudi

Acara diadakan 1 Desember 2018, di Dolphin Village, Cornesh Dammam. Berikut catatan singkatnya yang beredar viral di media sosial.

Dari tiket masuk, terobek (tidak dijual, digratiskan) lebih dari 1.800 pcs, artinya pengunjung di atas 1.800 orang dalam 1 hari penuh even Bazar Sharqiyah kemarin. Salah satu stand SBTC menghitung perkiraan pengunjung terdiri 80% WNI, 10% Arab Saudi, 5% Yaman, 5% sisanya dari warga lainnya, seperti Malaysia dan Filipina.

Salah satu faktor yang paling menarik ramainya pengunjung adalah kuliner nusantara dg berbagai macamnya yag maknyus, olahan ibu2 rumah tangga masyarakat Indonesia di Sharqiya. Bagi warga Indonesia di Sharqiya, makanan Indonesia merupakan hal yang cukup asing, mengingat restoran yang ada hanya 1 di Dammam dan 1 Khobar, itupun blm menyajikan hidangan yang pas di lidah.

Banyak stand masakan ibu2 laris dalam waktu singkat. Restoran Puncak Khobar yg tiba di venue terlambat, langsung diserbu pengunjung, dalam hitungan menit ludes. Salah satu masakan favorit “Masakan Padang” Uni Fitria dari Riyadh, ratusan tusuk sate, nasi kapau, daging rendang, tidak lama setelah waktu dzuhur ludes habis. Padahal bazar masih berlangsung sampai malam.

Di stand no 11 dan 12, Mpo Munia dan Dapur Sekar Jagat, yang biasa dikenal kateringnya, kewalahan melayani pengunjung pelanggannya. Dua shift bolak balik ke rumah mengambil stok, setelah makan pagi kemudian utk makan siang, kurang dari 3 jam masakannya laris manis.

Stand SASA, utusan Pak Abdul Halim, dijaga Pak Adung, pagi hari menumpuk karton Teh Botol Sostro setinggi jerapa, bisa untuk berteduh dari sinar matahari pagi. Siangnya, tumpukan tsb sudah menurun setinggi badan manusia dan sore harinya ludes. Distributor produk Indonesia SBTC juga begitu, datang membawa barang yang dibawa trolly PP, pas tutup di malam hari sisa barangnya cukup kuat ditenteng dengan tangan. Belum lagi stand Indomie tak kalah ramainya.

Salah satu yang menarik, semangat warga Indonesia keturunan Arab (Hadromi). Meskipun kental darah Arabnya, tapi lihai mengolah nasi meggono Pekalongan (ibu Zaenah asal Tegal). Standnya pun ramai disatroni pengunjung, seperti semut mengerubuti gula.

Tak berbeda dari ibu Zaenah, beberapa stand dikelolah oleh mba-mba yang dikenal sebagai pekerja salon. Dua kali standnya diisi stok jualan mulai siomay hingga bakso, dan lain-lain.

Banyak rupa menu selera nusantara lainnya, seperti sarapan bubur ayam, bubur campur candil, rupa-rupa gorengan, dan seterusnya.

Banyak pengunjung yang kecewa, perutnya tidak dapat langsung terisi, menunggu shift kedatangan stok jualan berikutnya, mulai setelah dzuhur sampai menjelang ashar. Selepas ashar, Oskab Ngalam, nasi kuning padang, batagor, siomay, pempek, mengikuti nasib menu2 lainnya yang ludes duluan.

Beberapa sponsor yang hadir seperti WU, BRI, BNI, Friendi, Indomie, dll, bersemangat berbagi souvenir dan doorprize. Panitia juga berbagi hadiah utk adik2 pelajar TPA se-Wilayah Timur, sekira sebanyak 100 anak2 TPA yang hadir dan menerima bingkisan.

Dengan segala kekurangannya, alhamdulillah sudah dapat terlaksana. Ditunggu even yang lebih menarik di tahun selanjutnya. abufakhri

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*