Framing Media: Rakyat Palestina Dilarang Haji dan Umrah Oleh Pemerintah Saudi

Jika kita berkunjung ke “wilayah” yang dikuasai Israel, Jerusalem misalnya, maka kita tidak akan mendapatkan visa yang ditempel atau distempel di paspor Indonesia layaknya jika kita bepergian ke negara-negara lain.

Ini karena, jika paspor ditempeli visa israel, maka paspor tersebut memungkinkan akan menghadapi masalah ketika akan masuk ke banyak negara-negara Arab, Arab Saudi salah satunya.

Sama halnya, setiap warga Arab Israel yang akan masuk ke Arab Saudi untuk umrah atau haji, maka ia tidak bisa memakai passpor Israel-nya dan hanya bisa memanfaatkan dokumen perjalanan sementara yang diterbitkan pemerintah Yordania, negara yang berbatasan langsung dengan Israel.

Jadi mereka yang berniat pergi haji atau umrah melalui Yordania; melewati Allenby Bridge, dilanjutkan perjalanan 17 jam dari Amman menyeberang pos perbatasan Durra sebelum memasuki kota Tabuk. Lalu menyusuri jalur pantai laut merah melewati Yanbu dan akhirnya sampai di kota Makkah.

Inilah rute umum bagi mereka, bagi warga arab Israel-Palestina yang akan memasuki kota suci Makkah.

November 2017, kemudahan ini dimanfaatkan oleh seorang yahudi bernama Ben Tzion. Ia diduga memperoleh dokumen perjalanan sementara layaknya orang Palestina, lalu menggunakannya untuk memasuki Makkah, menginjakkan kakinya di Masjidil Haram, dan memposting foto-fotonya di media sosial dengan judul ‘A Zionist at the Prophet’s Mosque‘.

Dengan bangga Tzion mengatakan bahwa Yahudi berhasil menaklukkan dan memasuki Makkah, yang tentunya terlarang dimasuki oleh begundal semodel dirinya.

April 2018, diberitakan 2 orang Arab Israel tengah menghadapi tuntutan pengadilan karena diduga merencanakan aksi teror di musim haji 2014.

Mereka pun masuk Saudi dengan cara yang sama; menyalahgunakan kemudahan paspor sementara untuk perjalanan umrah dan haji, yang diterbitkan otoritas di Yordania.

Menghadapi permasalahan-permasalah tersebut, pemerintah Arab Saudi mengambil kebijakan menghentikan penggunaan paspor haji atau umrah yang diterbitkan Yordania bagi warga negara Israel atau pengungsi Palestina.

Sebagai gantinya, mereka hanya bisa menjalankan haji atau umrah dengan dokumen perjalanan berupa paspor resmi yang diterbitkan Otoritas Palestina saja.

Itulah fakta sesungguhnya, tetapi apa yang kita baca di media beberapa hari lalu adalah “Saudi Bars Palestinians of Israel from Hajj, Umrah,”  ditulis besar dan digoreng seolah pemerintah Saudi melarang rakyat Palestina pergi hajidan umrah.

Mengapa demikian? karena media-media yang mem-framing adalah media-media yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin (IM); Middle East Eye (MME), Middle East Monitor (MEMO) dan Al Jazeera.

MME berbasis di London dan didanai Jamal Bassasso dan Anas Mekdad, imigran pengusaha palestina yang merupakan anggota al-Islah, yakni sebuah sayap organisasi IM di UAE.

MEMO juga berafiliasi kuat dgn IM lewat Tariq Ramadan, yang merupakan cucu dari pendiri Hasan al-Banna yang sekarang tinggal di Swiss dan menjabat sebagai penasehat utama di MEMO.

Al Jazeera? ah, sudahlah you know better than me

So, pesan pentingnya? IM tidak lebih sebagai provokator numero uno dan biang kerok pertikaian.

Waspadai corong media mereka termasuk yang di tanah air yang suka piyungan, eeh kliyengan.

*) Ditulis oleh Katon Kurniawan

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*