End of Kashoggi

Penyidik Saudi resmi mengumumkan Kashoggi terbunuh di dalam konsulat. Entah siapa yang membunuhnya dari 15 orang yang ditugaskan untuk membujuk Kashoggi.

Proses dengan sebab kematiannya pun belum jelas. Apakah meninggal karena cekikan itu sendiri atau karena jantung, mengingat usianya yang hampir 60 tahun.

Tim tersebut ditugaskan membujuk Kashoggi agar kembali ke Saudi. Keberadaannya dan kekritisannya di luar Saudi, rentan dimanfaatkan pihak lain. Sedikit-banyaknya ini benar.

Jika kita saksikan wawancara Kashoggi, baik oleh media AS, Turki, atau Qatar, cenderung seolah menyaksikan wawancara “MetroTivu” yang menggiring pertanyaan terhadap narasumber.

Satu-satunya esensi kritik Kashoggi adalah kepada pangeran MBS yang dinilainya ingin memajukan Saudi (dan ini positif bagi Kashoggi), namun dengan cara menumpuk kekuasaan di sekitarnya.

Kashoggi protes banyaknya penangkapan terhadap ulama dan aktivis. Menurutnya, MBS tidak perlu melakukan itu semua karena justru apa yang dilakukan MBS itu tidak baik dan disetujui masyarakat Saudi.

Dalam sebuah wawancara dengan salah satu televisi Turki, Kashoggi ditanya, “apakah Saudi dapat maju jika hukum-hukum syariat yang menghalangi kebebasan, tetap diberlakukan?” Anda dapat menilai kualitas pertanyaan ini.

Kashoggi menjawab, “Bisa ya, bisa tidak. Contohnya Cina yang maju meski anti demokrasi.”

Pembunuhan Kashoggi

Pembunuhan Kashoggi jelas adalah kerja intelijen yang berarti juga akan selalu ada missing-link antar otoritas. Satu regu yang diberi tugas intelijen, bersifat komando sekaligus independen. Paling jauh hanya 2 level rantai komando yang bisa ditelusuri.

Hal itu karena satuan-kesatuan tersebut memiliki wewenang menterjemahkan garis kebijakan level di atasnya. Jadi jika kasus ini tidak dapat ditelusuri hingga ke level pangeran MBS, hal tersebut dapat dimaklumi. Jangankan sampai ke MBS, ke kepala intel Saudi saja tidak akan sampai.

Melihat reaksi beberapa negara terhadap kasus ini, menunjukkan interest negara-negara tersebut terhadap Saudi. AS, Turki, Qatar, dan Iran adalah negara-negara yang memiliki interest terhadap Saudi. Bisa dimaklumi jika negara-negara lain mendukung upaya Saudi, selebihnya cuek saja.

Peristiwa operasi pembunuhan intelijen sendiri sering terjadi. Diplomat-diplomat Saudi sudah sering jadi korban, mulai dari pembunuhan diplomat Saudi di Pakistan, Bangladesh, atau di Sudan. Jangan lupa pula upaya pembunuhan Menteri Luar Negeri Saudi, Adel al-Jubeir, yang ditembak ketika berada di AS. Berita-berita seperti ini lenyap begitu saja.

Menilai Kejadian Khashoggi

Menilai akibat operasi intelijen tidak dapat dilakukan secara hitam putih. Kita tentu ingat kasus pembunuhan Theys Hiyo Eluay, tokoh separatis Papua yang diculik dan dibunuh 10 Nopember 2001. Dunia internasional mengecam, lalu dilakukan penyelidikan.

Hasilnya beberapa “oknum” Kopassus didakwa melakukan pembunuhan tersebut. Beberapa “oknum” tersebut akhirnya dipecat secara tidak terhormat. Kasus ini tidak pernah naik ke level komando di atasnya.

Apakah Kashoggi hanyalah seorang jurnalis, ataukah seorang pengkhianat negara yang pantas dilenyapkan, kita hanya bisa menerka-nerka.

Yang bisa kita lakukan hanyalah mendoakan semoga amal kebaikannya diterima Allah dan dosa-dosanya diampuni.

Allahummaghfirlahu wa ‘aafihi wa’fu anhu…

*) Ditulis oleh Ismail Rajab, pengamat politik dan dunia Islam.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*