MBS Menjawab Trump

Putra Mahkota sekaligus Menteri Pertahanan Arab Saudi, Muhammad bin Salman (MBS), menjawab ocehan Presiden Amerika Serikat (AS), Donal Trump, terkait Arab Saudi saat kampanye partainya di Mississippi pada Selasa (2/10) lalu.

Dalam kesempatan tersebut, dengan congkaknya Trump mengatkan, “Raja, kami melindungi Anda. Anda mungkin tidak akan bertahan dua pekan di sana tanpa kami. Anda harus membayar untuk militer Anda’,” kata Trump. “Anda harus membayar,” imbuhnya.

MBS merespon pernyataan Trump dalam wawancara di media Bloomberg (Jum’at, 5/10) saat ditanya tentang ketergantungan keamanan negara Saudi atas perlindungan AS; “Arab Saudi ada sebelum Amerika Serikat, sejak tahun 1744. Saya yakin lebih dari 30 tahun sebelum Amerika Serikat menjadi negara. ”

“Menurut saya, kebijakan Obama (presiden AS sebelumnya –red) banyak yang bertentangan dengan agenda kami di Arab Saudi. bahkan di Timur Tengah. Padahal kami telah mampu melindungi kepentingan kami sendiri. Pada akhirnya, kami berhasil melewatinya. Sementara AS telah gagal selama masa kepemimpinan Obama, sebagai contoh apa yang terjadi di Mesir.” Jelasnya, menggambarkan Arab Saudi tidak terjadi gejolak meski “Arab Spring” melanda banyak negara di Timur Tengah, termasuk di antaranya Mesir.

MBS pun mengomentari bualan Trump terkait “upeti” Saudi ke AS, “faktanya, kami tidak pernah membayar apapun untuk keamanan negeri kami. Kami memang membeli senjata dari AS dan kami membayarnya dengan uang, karena pasti itu bukan senjata gratis. Sejak dulu, saat kami mulai membeli senjata ke AS, pasti kami bayar dengan uang.”

Tidak cukup di situ, MBS menjelaskan lebih lebih lanjut kenapa Trump begitu bangganya dengan statemennnya; “Sebelum dua tahun terakhir ini, kami sebenarnya mempunyai rencana belanja senjata lebih banyak ke negara selain AS. Akan tetapi, saat Trump terpilih sebagai presiden AS, strategi tersebut berubah dengan mengadakan kontrak lagi untuk pembelian senjata ke AS dalam 10 tahun mendatang. Dengan kontrak ini, maka 60% belanja senjata kami ke AS.”

MBS tidak tanpa alasan mengapa kembali mengalokasikan belanja tersebut ke AS, “Dengan adanya kontrak tersebut, maka membuka peluang transaksi antar dua negara sebesar 400 milyar dollar, yaitu dalam pengadaan senjata, investasi bisnis, dan perdagangan lainnya. Maka ini merupakan hal yang positif bagi perekonomian Arab Saudi dan AS.”

Kesepakatan lain yang lahir dengan pancingan belanja senjata Saudi ke AS, “meliputi pernjanjian perakitan senjata di Arab Saudi, yang membuka peluang pekerjaan di AS dan Arab Saudi. Maka perekonomian akan terdorong maju bagi kedua negara, sekaligus mejadi faktor pendorong keamanan,” ulas MBS.

Pengamat politik Islam dan Timur Tengah, Ust. Ismail Rajab, menanggapi pidato Trump di depan massa partainya tersebut, tidak lebih sebagai bahasa seorang penjual, “yang bisa dipahami, Trump bilang, ‘anda harus beli, (karena) persenjataan Anda hanya mampu bertahan untuk 2 pekan.”

Ismail menambahkan, “ini mirip dengan analisis bahwa Indonesia hanya bisa bertahan 3 hari jika perang, yang bicara ini bukan sembarang orang, tetapi Menhan.”

“Tahun 2020 sudah Pilpres di Amerika,” imbuh Ismail, “karenanya Trump berbicara seperti itu di depan pendukungnya,” untuk meyakinkan slogan “Make America Great Again” yang selalu digaungkan Trump. erem, jll, ir

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*