Ahmad Mughassil, Dalang Aksi Terorisme di Khobar Ditangkap Setelah 19 Tahun Menghilang

Selasa, 25 Juni 1996, sebuah bom mengguncang kota Khobar, sebuah kota pemukiman di Wilayah Timur Arab Saudi. Setidaknya 19 tewas dan 372 luka-luka, termasuk di antaranya tentara Amerika dan ekspatriat dari berbagai negara dunia. 

Sebuah bom berdaya ledak besar dibawa dengan sebuah truk tanker gas yang telah dimodifikasi, diselundupkan dari Libanon. Bom menargetkan “Abraj al-Khobar,” gedung mess tentara Amerika kala itu.

Pihak keamanan Arab Saudi berhasil mengidentifikasi empat pelaku utamanya; Karim Hussein Nasser, Ahmed Mughassil, Ali Saeed Al-bidadari, Ibrahim Saleh al-Yacoub dan seorang anonim asal Libanon. Kelima terdakwa tersebut bukan hanya diburu pemerintah Saudi, tetapi juga pemerintah negara-negara di dunia yang warganya ikut menjadi korban.

Mereka tergabung dalam kelompok teroris Hizbullah Hijaz, cabang dari Hizbullah di Libanon, dukungan Republik Syiah Iran. 

Salah satu otak dari aksi pengeboman yang paling dicari adalah Ahmed Ibrahim Mughassil (Abu Imran), seorang warga Saudi, kelahiran 26 Juni 1967 di Qatif, sebuah kota kecil di Wilayah Timur Arab Saudi yang dikenal sebagai pusat pemukiman Syiah.

Setelah sekian lama diintai keberadaannya, akhirnya pada bulan Agustus 2015, Mughassil berhasil ditangkap di Beirut, Libanon, setibanya dari penerbangan dari Iran.

Pemimpin Brigade Hizbullah Hijaz (Saudi) tersebut, sempat dikabarkan meninggal dunia di Iran. Rezim Iran sendiri menolak menyerahkan terdakwa terorisme dengan menafikan hubungan mereka dengan aksi terorisme di Arab Saudi.

Sebagai korban terbesar dalam aksi terorisme tersebut, pengadilan federal Amerika  telah memerintahkan Iran untuk membayar kompensasi sebesar 104,7 juta dolar (393 juta riyal) kepada para warga Amerika yang korban pemboman.

Pada Juni 2001, 13 anggota kelompok Lebanon Hizbullah juga telah dihukum di pengadilan federal di Alexandria, Virginia, atas keikutsertaan mereka dalam serangan mematikan tersebut.

Tidak lama berselang waktu pasca pemboman tersebut, media di Timur Tengah mengungkap fakta Hizbullah sebagai kepanjangan tangan revolusi syiah Iran untuk memuluskan tekadnya menguasai dunia Arab.

Rekam jejak Iran sebagai sponsor terorisme di dunia Arab, utamanya di Arab Saudi, dimulai dengan pelatihan militer bagi mahasiswa Saudi yang sedang belajar di Qum oleh pasukan Garda Revolusi Iran.

Al-Arabiya TV merekam aksi teror yang pernah dilakukan Brigade Hizbullah Hijaz di Arab Saudi di antaranya:

  • Kerusuhan di musim haji 1407 H (1987) yang dilakukan oleh jemaah haji Iran dan penganut Syiah, jatuh korban 402 orang meninggal.
  • Peledakan di komplek pabrik petrokimia Shadaf di kota industri Jubail, Wilayah Timur Arab Saudi, tahun 1988.
  • Pemboman di kedutaan besar Arab Saudi di beberapa negara dunia, di antaranya yang menelan korban jiwa di Kedutaan Besar Arab Saudi di Bangkok dan Ankara.
  • Dan aksi terorisme lainnya yang tak terhitung jumlahnya, baik berskala kecil maupun besar di berbagai kota Arab Saudi.

Atas berbagai aksi terorisme tersebut, pada tahun 2013 pihak keamanan Arab Saudi merespon dengan menetapkan organisasi teroris terlarang selain Hizbullah, adalah al-Ikhwan al-Muslimun, ISIS, an-Nusrah, dan al-Houtsi.

Seorang host di Al-Arabiya TV mengatakan bahwa organisasi yang disebutkan di atas, menjadikan Arab Saudi sebagai musuh utama, musuh yang sebenarnya dalam praktek nyata, bukan Amerika ataupun Yahudi Israel. Bahkan secara khusus, Hizbullah menargetkan Makkah dan Madinah sebagai target utama untuk dikuasai dengan dalih berjuang atas nama Islam. jalal

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*