Al-Jazeera Menyebar Dusta Penangkapan Syaikh Al-Ghamidi oleh Pemerintah Arab Saudi

Konflik politik Qatar dengan Arab Saudi dan negara Arab lainnya, berdampak kepada keterpihakan media di masing-masing negara. Sekaligus, membuka kedok kualitasnya.

Salah satu media yang konon menjadi kiblat kaum muslimin dunia yang berusaha mengimbangi hegemoni berita Barat, Al-Jazeerah, ternyata tidak lebih sebagai corong kepentingan negara Qatar. Sehingga, tidak jarang laporan beritanya didasari atas kedengkian terhadap lawan-lawan politiknya, terutama Arab Saudi.

Salah satu bukti yang terbaru adalah sebuah berita yang dilansir Al-Jazeera pada Jumat (20/07). Berita yang diterjemahkan oleh media berbahasa Indonesia, di antaranya Kiblat.net, tentang penangkapan Syaikh Ali bin Sa’id Al-Ghamidi, mantan pengajar tetap di Masjid Nabawi oleh pemerintah Arab Saudi.

Padahal laporan tersebut, menurut Kiblat.net, bersumber dari sebuah akun Twitter Muktaqy Ra’yi, tidak dijelaskan siapa pemilik akun ini.

Dalam laporan berita tersebut ditulis:

“Syaikh Al-Ghamidi ditangkap bersama saudara dan pengacaranya serta lima ulama dan penuntut ilmu yang saat itu berkunjung ke rumahnya ketika aparat keamanan negara menggerebek rumah Syaikh,” tulis akun tersebut.

Menurut sumber, Al-Ghamidi ditangkap meskipun pihak berwenang mengetahui kesehatannya memburuk. Bahkan, saat ditangkap beliau masih menggunakan oksigen.

Tanpa ada usaha melakukan konfirmasi ke pihak berwenang di Arab Saudi atau melakukan “cover both side” ke sumber lain, seperti media lokal Arab saudi, blow up berita dilakukan al-Jazeerah dan kemudian diterjemahkan secara “taken for granted” oleh Kiblat.net dan media yang semisal.

Membantah laporan berita tersebut, sabaq.org mengungkap keterkejutan Ibrahim bin Ali Al-Ghamdi, salah satu putra Syaikh Ali bin Sa’id Al-Ghamidi atas kabar yang beredar.

Dia terkejut atas pemberitaan oleh Al-Jazeera tersebut, yang telah tersebar di dunia maya, khususnya di wilayah Timur Tengah.

“Telah kita baca berita yang tersebar di media sosial Twitter dengan judul “berita penangkapan” (terhadap ayahnya). Dan kami pastikan bahwa berita tersebut tidak benar, tetapi tidak lebih sebuah rumor yang disebarluaskan untuk mendiskreditkan reputasi syaikh dan negara ini, hafizahallah.” Tekannya.

Ibrahim menambahkan: “Sesungguhnya tujuan akhir dari akun-akun penyebar berita tersebut untuk memberikan citra buruk terhadap negara ini dan warganya, menciptakan kebingungan, menyebarkan desas-desus, dan mencitrakan keburukan petugas keamanan – wafaqqahumulah – serta upaya mereka dalam menggangu keamanan dan perlindungan negeri ini.”

Perlu dicatat bahwa Syaikh Dr Ali bin Saeed Al-Ghamdi tidak hanya dikenal sebagai seorang yang sibuk mengajar ilmu as-syar’i, penulis banyak kitab fikih, tetapi juga seorang yang taat dan patuh serta mencintai waliyul amr, dengan berkhidmah kepada agama dan negara.

Saat ini beliau tengah dirawat di rumahnya karena sakit yang dideritanya, berbaring di atas ranjang dengan bantuan perangkat oksigen, semoga Allah mengangkat penyaktinya dan memberikan kesehatan wal ‘afiah.

Bantahan telak di atas membuktikan kualitas media yang selama ini dianggap pembela kaum muslimin, sementara kenyataannya menunjukkan penyebar fitnah dan adu domba.

Bualan Al-Jazeerah yang dikutip Kiblat.net tidak cukup di atas, tetapi mereka juga menulis:

Penangkapan ini terjadi sepekan setelah penangkapan Syaikh Safar al-Hawali. Ulama berusia 68 tahun itu ditahan karena mengkritik pemerintah dan ulama kerajaan dalam buku terbarunya.

Baru-baru ini, ada laporan tentang memburuknya kesehatan beberapa tahanan di penjara Saudi. Kondisi itu diduga karena pelayanan buruk di penjara serta usia para ulama itu yang memasuki masa senja.

Perlu diketahui, media yang gigih membela seorang seperti Syaikh Safar al-Hawali, tidak lebih dari media harokiy yang hanya menginginkan kekuasaan dari kelompoknya.

Syaikh Safar yang diberitakan ditangkap tersebut bukan sekedar mengkritik pemerintah dan Haiyah Kibar Ulama Arab Saudi, tetapi lebih tepat sebagai “kompor” generasi muda Saudi untuk menjadi teroris.

Ini dikarenakan, rekaman-rekaman ceramah dan tulisan-tulisannya berpaham takfiri dan terbukti melindungi buronan teroris buruan pemerintah Arab Saudi. Masih lebih baik dia ditangkap oleh pihak keamanan Saudi, jika di Indonesia, nasibnya bisa jadi di ujung timah panas Densus 88.

Berita tentang tahanan di penjara Saudi juga mengada-ada. Pelayanan di penjara bagi tahanan teroris Saudi, justru lebih baik dengan fasilitas lengkap dari pada penjara bagi kriminal biasa. Silahkan baca penjara Al-Hair yang terkenal sebagai hotel prodeo tahanan kelas kakap dari amir hingga teroris dan narapidana politik di sini.

Anda juga dapat membandingkan fitnah dusta terkait penjara oleh Al-Jazeerah dan Kiblat.net di atas dengan berita di sini.

Semoga Allah menjaga Arab Saudi dan negara-negara muslimin di seluruh dunia dari fitnah kaum harokiy dan teroris. jalal

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*