Hujjah dan Pedang

Islam ini akan tegak dengan hujjah dan pedang. Apabila hujjah telah disampaikan tentang pentingnya tauhid dan sunnah, serta bahayanya syirik dan bid”ah, maka setelah memiliki kekuatan yang memadai ditegakkan dengan pedang, dengan kekuatan persenjataan. Begitulah yang dicontohkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, para sahabatnya dan para salaf setelahnya.

Allah Ta”ala berfirman:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS Al Hadid: 25)

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah :

وقوله : ( وأنزلنا الحديد فيه بأس شديد ) أي : وجعلنا الحديد رادعا لمن أبى الحق وعانده بعد قيام الحجة عليه ; ولهذا أقام رسول الله – صلى الله عليه وسلم – بمكة بعد النبوة ثلاث عشرة سنة توحى إليه السور المكية ، وكلها جدال مع المشركين ، وبيان وإيضاح للتوحيد ، وتبيان ودلائل ، فلما قامت الحجة على من خالف ، شرع الله الهجرة ، وأمرهم بالقتال بالسيوف ، وضرب الرقاب والهام لمن خالف القرآن وكذب به وعانده .

Adapun firman Allah Ta”ala :

{وَأَنزلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ}

“Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat.” (QS. Al-Hadid: 25)

Maksudnya, Kami jadikan besi itu sebagai sarana untuk menekan orang yang membangkang terhadap perkara yang hak dan mengingkarinya padahal hujah-hujah telah ditegakkan di hadapannya.

Karena itulah maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bermukim di Mekah sesudah kenabian selama tiga belas tahun, yang selama itu diwahyukan kepada beliau semua surat Makkiyyah, yang isinya mengandung bantahan terhadap orang-orang musyrik, dan penjelasan, serta keterangan mengenai ketauhidan dan dalil-dalil lainnya.

Dan manakala hujjah (alasan) telah ditegakkan terhadap orang-orang yang menentang syariat Allah, maka Allah Ta’ala memerintahkan kepada Nabi­Nya dan kaum muslim untuk berhijrah, dan memerintahkan pula kepada mereka untuk memerangi kaum musyrik dengan memakai senjata dan menghukum mati serta memenggal kepala orang yang menentang Al-Qur’an, mendustakannya dan mengingkari kebenarannya. (Tafsir Ibnu Katsir).

Berkata Ibnu Taimiyah rahimahullah setelah mengutip ayat diatas :

فمن عدل عن الكتاب قوم بالحديد، ولهذا كان قوام الدين بالمصحف والسيف

“Barangsiapa berpaling dari Al Qur’an maka ditegakkan dengan besi (pedang). Karena itu, tegaknya agama ini adalah dengan mushaf (Al Qur’an) dan pedang.” [Majmu’ Fatawa 28/263]

Berkata Ibnu Qoyim rahimahullah:

فإن الله سبحانه أقام دين الإسلام بالحجة والبرهان ، والسيف والسنان ، كلاهما في نصره أخوان شقيقان

“Sesungguhnya Allah subhaanahu menegakkan agama Islam dengan hujjah dan bukti-bukti, serta pedang dan tombak. Keduanya dalam menolong agama adalah (seperti) dua saudara kandung (yang tidak terpisahkan).” [Al Furusiyyah hal 18]

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

بُعِثتُ بِالسَّيْفِ بَيْنَ يَدَي السَّاعَةِ حَتَّى يُعبَد اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وجُعِل رِزْقِي تَحْتَ ظِلّ رُمْحي، وَجَعَلَ الذِّلَّةُ والصِّغار عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشبَّه بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Aku diutus dengan membawa pedang sebelum hari kiamat, hingga hanya Allah semata sajalah yang disembah tiada sekutu bagi-Nya. Dan Allah menjadikan rezekiku berada di bawah bayangan tombakku, dan menjadikan kehinaan dan kerendahan bagi orang yang menentang perintahku; dan barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Demikian pula dengan yang dilakukan Syeikh Muhammad Bin Abdul Wahhab mengikuti para pendahulunya (para salaf). Beliau berdakwah dengan dalil dan hujjah. Mengajak kepada tauhid dan sunnah dan memerangi syirik dan bid”ah.

Setelah hujjah dan dalil ditegakkan dan kebanyakan manusia tetap dengan kesyirikan dan kebid”ahannya, maka bersama-sama penguasa menegakkan islam dengan kekuatan persenjataan.

Perhatikan kisah beliau:

Muhammad bin Abdul Wahab memulai pergerakan di kampungnya sendiri, Uyainah. Ketika itu, Uyainah diperintah oleh seorang Amir (penguasa) bernama Usman bin Muammar. Amir Usman menyambut baik ide dan gagasan Syeikh Muhammad, bahkan dia berjanji akan menolong dan mendukung perjuangan tersebut.

Suatu ketika, Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab meminta izin pada Amir Usman untuk menghancurkan sebuah bangunan yang dibangun di atas maqam Zaid bin al-Khattab. Zaid bin al-Khattab adalah saudara kandung Umar bin al-Khattab, Khalifah Rasulullah yang kedua. Menurut pendapatnya, membuat bangunan di atas kubur dapat menjurus kepada kemusyrikan.

Amir menjawab “Silakan, tidak ada seorang pun yang boleh menghalangi tujuan yang mulia ini”. Khawatir akan terjadi aksi penghalangan oleh penduduk yang tinggal berdekatan maqam tersebut, lalu Amir menyediakan 600 orang tentara untuk mengawal bersama-sama Syeikh Muhammad untuk merobohkan bangunan diatas makam yang dikeramatkan itu. Sumber: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Muhammad_bin_Abdul_Wahhab

Kesimpulannya, tegakkan Islam dengan hujjah dan dalil, jika ini sudah disampaikan maka tegakkan islam dengan pedang bersama-sama penguasa. Karena kadang ahlul syirik dan ahlul bid’ah susah menerima kebenaran walaupun dengan seribu dalil. Untuk itu pedang penguasa yang bisa menghentikannya.

Berkata Syekh Al Albani rahimahullah:

طالب الحق يكفيه دليل , وطالب الهوى لا يكفيه ألف دليل الجاهل يُعَلَّمُ , وصاحب الهوى ليس لنا عليه سبيل

Orang yang mencari kebenaran, cukup baginya satu dalil, sedangkan pengikut hawa nafsu, tidak akan cukup baginya seribu dalil. Orang yang tidak tahu, maka dia diajari. Sedangkan pengikut hawa nafsu, maka kita tak dapat menunjukkan kepadanya jalan kebenaran. Sumber: www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?p=2203696

Berkata Al ‘Alamah Rabi Bin Hadi Hafidzahullah:

أهل البدع لا يردهم الا السيف ولا يردهم الا السلطة القوية الحازمة أما الحجج فلا تنفعهم الا من اراد الله له الهداية

AHLUL BID’AH, tidak ada yang bisa menghentikannya kecuali dengan pedang dan kekuasaan yang kuat dan kokoh, adapun hujjah-hujjah (dalil-dalil) maka tidak ada manfaatnya bagi mereka kecuali orang yang Allah kehendaki hidayah baginya. (Al Majmu’ Syarah Aqidah As Salaf – Ash Shabuuni).

Ditulis oleh Abu Fadhel Majalengka

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*