Bulan Ramadan di Arab Saudi, Berkah Bagi Ekspatriat

Menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan di Biladul Haramain, Arab Saudi, tentunya tidak akan sama rasanya dengan di Tanah Air Indonesia. Bagaimana tidak, selain cuaca yang berbeda, faktor budaya dan makanan di musim ibadah ini pun tidak sama.

Tahun ini, Arab Saudi menetapkan awal bulan Ramadan bertepatan dengan hari Kamis, 17 Mei 2018. Penetapan ini setelah pada hari Selasa (29 Sya’ban 1439), tim rukyat tidak berhasil melihat hilal, maka digenapkanlah bulan Sya’ban menjadi 30 hari.

Bulan Mei di Arab Saudi, berarti awal peralihan musim dingin ke musim panas. Seperti saat ini, suhu udara dapat mencapai 40 derajat celcius lebih di siang hari. Panasnya udara akan beranjak naik hingga puncaknya di bulan Juli-Agustus.

Yang membedakan dengan tahun sebelumnya, bulan Ramadan tahun ini, semakin bertambah hari maka waktu sahur akan bertambah cepat sementara waktu berbuka akan bertambah lambat. Padahal, biasanya jika semakin tua tanggal Ramadan, maka semakin pendek siangnya karena menuju musim dingin.

Sebagai contoh, di kota Dammam, kota paling timur Arab Saudi, batas akhir sahur jam  3.23 di hari pertama dan jam 3.13 di akhir Ramadhan. Sementara waktu buka puasa, paling cepat 6.20 sore dan paling lambat 6.34 di hari akhir Ramadan. Jadi, lama puasa bisa mencapai 15 jam lebih dalam sehari.

Bulan Berkah Bagi Ekspatriat

Bagi warga asing, bulan Ramadan di Arab Saudi, benar-benar menjadi berkah (penuh kebaikan) tersendiri. Betapa tidak, ekspatriat muslim yang hidup di negaranya dengan penuh kebebasan berekspresi dengan ragamnya keyakinan beragama masyarakatnya, akan menemukan pengalaman berbeda di negeri yang hanya melegalkan satu agama saja yang wajib dianut bagi warga penduduknya.

Keberkahan itu terasa dari suasana yang sangat mendukung untuk menyempurnakan ibadah puasa. Di Saudi, tidak didapati warung atau toko makanan berjualan di siang hari selama bulan Ramadan. Toko makanan, restoran dan warung-warung (boofiyah) akan ramai dikunjungi orang hanya saat menjelang waktu buka puasa dan di malam hari.

Di saat yang sama, sebagaimana lazimnya kehidupan sehari-hari di Saudi, tidak hanya perut yang berpuasa, “matapun akan berpuasa,” karena sulit ditemukan maksiat pandangan dari hal-hal yang dilarang, seperti melihat lawan jenis bukan mahramnya yang membuka auratnya.

Keberkahan lainnya, terutama bagi ekspatriat yang mengadu nasib di Saudi, kebutuhan makan untuk sahur dan berbuka puasa, bisa sepenuhnya didapatkan gratis alias tidak mengeluarkan uang sepeserpun.

Hampir di setiap sudut blok perumahan, lapangan terbuka dan masjid-masjid, selalu ada tenda untuk berbuka puasa. Bahkan, di antaranya yang diorganisir oleh Islamic Cultural Center setempat, selain disediakan buka bersama gratis, berbagai macam acara seperti tahsin dan tahfidz Al-Quran, lomba-lomba lainnya diadakan dengan hadiah yang sangat bermanfaat bagipara ekspatriat.

Dengan program buka puasa saja, kebutuhan makan sehari-hari ekspatriat dapat berhemat lebih banyak. Sementara para dermawan berlomba-lomba menawarkan kebaikannya berharap balasan berlipat di bulan penuh berkah ini.

Di awal atau penghujung akhir Ramadan pun, sering ada tawaran umrah gratis. Kesempatan ini tentunya langka ditemukan selain di bulan penuh barokah Ramadan ini.

Kenikmatan lainnya dari berkah Ramadan, ekspatriat merasakan nikmatnya shalat di masjid-masjid yang penuh dengan jemaah diimami qari yang bacaanya dapat menambah khusyu’ shalat.

Selama Ramadan pun, jam kerja dikurangi menjadi 6 jam perhari. Dengan pengaturan ini, ekspatriat akan lebih mudah mengatur waktu-waktu ibadahnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*