Arab Saudi Siap Mengirim Pasukan ke Suriah

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel Al-Jubeir menegaskan kembali pada hari Selasa (18/04), bahwa negaranya siap, bersedia dan mampu mengerahkan pasukan untuk mendukung upaya apapun yang dipimpin Amerika Serikat (AS) untuk menstabilkan Suriah.

“Kami sedang berdiskusi dengan AS sejak awal krisis Suriah, tentang mengirim pasukan ke Suriah,” kata Al-Jubeir.

The Wall Street Journal melaporkan pada hari Senin (17/04) bahwa Presiden AS, Donald Trump, berusaha untuk mengumpulkan pasukan Arab, termasuk pasukan dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), untuk membantu memulihkan stabilitas di Suriah.

Tawaran bantuan Arab Saudi “bukan baru ini,” kata Al-Jubeir pada konferensi pers di Riyadh bersama Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

“Kami telah mengajukan kepada pemerintahan Obama bahwa jika AS mengirim pasukan, maka Arab Saudi akan mempertimbangkan bersama dengan negara lain mengirimkan pasukan sebagai bagian dari kontingen tersebut.”

Riyadh telah menyarankan bahwa itu bisa membantu operasi kontra-terorisme di beberapa wilayah konflik lainnya sebagai bagian dari koalisi muslim yang lebih luas.

Sebagai contoh, koalisi militer Islam yang didukung Saudi akan menyediakan logistik, intelijen dan pelatihan untuk pasukan kontra-terorisme baru di Afrika Barat, sebagaiman Al-Jubeir sampaikan pada bulan Desember tahun lalu.

Sementara itu penyelidik internasional akhirnya dapat memasuki pinggiran Damaskus, Douma, pada hari Selasa (17/04), setelah beberapa hari penundaan dan peringatan oleh pihak Barat bahwa bukti penting yang terkait dengan serangan gas kimia kemungkinan telah dihilangkan.

Tercatat lebih dari 40 orang tewas dalam serangan pada 7 April lalu. Sementara pihak Barat telah menyalahkan rezim Assad atas serangan tersebut.

Sebagai respon, AS, Prancis, dan Inggris meluncurkan serangan rudal pada Sabtu (14/04) yang menargetkan fasilitas senjata kimia rezim Asad. 

Juru bicara oposisi Suriah, Yahya Al-Aridi mengatakan kepada Arab News, bahwa rezim Asad “akan mencoba yang terbaik untuk menghancurkan bukti yang mungkin menunjukkan keterlibatannya dalam serangan itu.”

“Segera setelah serangan itu, kami melihat di televisi, tentara Rusia dan petugas mengunjungi lokasi serangan tersebut. Saya tidak berpikir orang-orang Rusia akan senang jika ada bukti yang ditemukan, terutama ketika mereka menyebutnya ‘kepalsuan’ di Dewan Keamanan PBB. Jadi mereka memiliki kepentingan mendasar untuk menghilangkan bukti sekecil apapun,” jelasnya. 

Serangan rudal terhadap sumber senjata kimia itu tidak cukup, katanya. “Warga Suriah dibunuh tidak hanya oleh senjata kimia. Mereka dibunuh dengan bom fosfor, dengan roket dan serangan udara, dan dengan pengungsian.”

Dunia tampak enggan menyebut rezim itu sebagai penjahat dan melanggar hukum, menuntaskan permasalahn tersebut, kata Al-Aridi. “Mereka juga tidak mendukung rakyat Suriah untuk membela diri sendiri (atas kekejian rezim Asad),” imbuh Al-Aridi. arbn

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.