Pengaruh Kental Islam Dalam Budaya Eropa

Oleh Fauzi Rifaldi, Admin Suara Madinah

Rasulullah shalaAllahu alaihi wasallam telah mengisyaratkan bahwa sebelum kiamat tegak, umat Islam akan mengikuti segala tingkah laku Yahudi dan Nashara.

Ternyata apa yang disampaikan Rasulullah ﷺ adalah kebenaran dan terbukti di zaman sekarang. Terlebih setelah kejatuhan Andalus dari kaum Muslimin dan ekspansi untuk mencari 3 G yaitu Gold, Glory dan Gospel yang dipelopori oleh Kaum Spanyol dan Portugis.

Bahkan generasi muda muslim sudah alergi dengan agamanya akibat kejahilan akan agama mereka dan peradabannya. Padahal Islam sempat membuat geger bangsa Eropa kala itu, hanya karena penemuan sabun mandi yang dibeli raja-raja Eropa dari pedagang Muslim. Saat itu kebiasaan Barat sangat jarang mandi dan mencuci pakaian karena dianggap merusak baju mereka.

Namun akibat kejahilan yang merata di mana-mana di era modern ini, muncul sebuah anggapan bahwa jika seorang muslim menampilkan syiar Islam akan dianggap terbelakang dan kolot, bahkan terori. Maka tidak heran terjadi islamphobia di negeri mayoritas Islam sendiri.

Sehingga kita wajib mengingatkan kembali kaum muslimin akan sejarah mereka yang dilupakan, sehingga generasi muda umat tidak ragu lagi mengekspresikan status mereka sebagai muslim baik di dalam tingkah laku, budaya, pakaian dan lain-lainya.

BAHASA ARAB

Dahulu pada tahun 800-an masehi, para raja dan aristokrat kaya dan elit Eropa seperti Jerman, Britania (Inggris), Perancis dan Italia mengutus pangeran-pangeran mereka ke Andalus (Spanyol) untuk belajar ilmu melalui tangan ulama kaum muslimin.

Kendati ilmu yang mereka pelajari adalah ilmu keduniawian seperti Ilmu astronomi, matematika, fisika, bangunan, dan sejenisnya, mereka harus menguasai Bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya.

Sehingga ketika mereka kembali ke Eropa, bahasa yang mereka gunakan terhadap sesama pelajar alumni Andalusia adalah Bahasa Arab. Bahkan mereka berbangga dengan Bahasa Arab di hadapan aristokrat lain dan terkadang mencampur-campurkan Bahasa Arab ke Bbahasa latin mereka agar kelihatan intelek cendekia dan berpendidikan tinggi.

Hal ini membuat Gereja merasa risih dan gusar melihat gelombang budaya Islam memasuki Barat bahkan mempengaruhi pemuda pemuda mereka. Gereja pun mengeluarkan Kanon atau Dekrit gereja bahwa siapapun yang menggunakan Bahasa Arab maka mereka dilarang masuk Kenisah Surgawi alias kerajaan tuhan di langit!

Hal yang kami tulis bukan sekedar wacana, akan tetapi hal ini sebagaimana yang ditulis oleh Paulus Alvarus yang terkenal dengan Alvaro De Cordoba di tahun 854 masehi, seorang Mozarab (penulis sejarah Islam) yang merasa terusik karena perubahan pemuda Kristen di zamannya.

Di dalam bukunya INDICULUS LUMINONUS bab 35 ia berkata:

“Pemuda pemuda Nasrani begitu gembira dengan syair-syair (poetry) Arab dan cerita cerita mereka. Mereka mempelajari buku-buku Fiqih dan buku-buku ideologi Muhammad bukan untuk mempraktekkannya, tetapi untuk mengambil ilmu sastra Arab yang elegan dan benar.

Dimanakah hari ini seorang ilmuan nasrani yang bisa membaca tafsiran Latin di kitab sucinya? Dimanakah mereka yang mempelajari Injil dan buku-buku Para Rasul dan Nabi Nasrani?

Aduhai malangnya! Pemuda Kristen yang seharusnya banyak memiliki bakat, tidaklah memiliki pengetahuan kecuali hanya sastra Arab dan Bahasa Arab saja. Mereka membaca Bahasa Arab dengan begitu ambisius dan cinta yang berlebihan. Mereka juga mengumpulkan literatur-literatur Arab dengan uang yang sangat banyak dan di dalam pembicaraan mereka selalu saja memuji-muji budaya Arab.

Dan jika engkau melihat sisi lain mereka, seperti ketika engkau menyebut buku buku Nasrani, pasti buku-buku itu tidak menarik perhatian mereka sama sekali.

Aduhai Kasihannya! Orang-orang Kristen sudah lupa bahasa mereka. Bahkan satu dari seribu mereka sudah tidak sanggup lagi menulis surat biasa kepada teman sendiri dengan bahasa latin yang benar!

Tapi jika kau suruh mereka menulis dengan Bahasa Arab, sungguh mereka akan menulisnya dengan mengungkapkan jiwanya ke dalam Bahasa Arab itu dengan penuh keindahan, bahkan hampir hampir melebihi syair Arab itu sendiri karena aturan-aturan sastra Arab yang secara tekun mereka pelajari.” (Dinukil dari buku Medieval Islam karangan Gustave E. von Grunebaum di halaman 57-58)

Bahkan Kaum Nashara juga menulis surat resmi mereka dengan bahasa Arab, hal ini sebagaimana yang dikatakan Ibn Zubayr ketika ia bersama rombongan musafir singgah di benteng Acre. Di situ ditulis bahwa bea cukai tentara salib ditulis dengan bahasa Arab dan mereka berbicara dengan bahasa Arab pula. (الاوضاع الحضارية في بلاد الشام halaman 244).

PAKAIAN ALA ARAB

Gelombang pengaruh Islam tidak hanya berhenti pada bahasa Arab saja, bahkan para raja dan bangsawan mengikuti pakian ala Islam.

Hingga seorang Kepala Paus di Benteng Acre menulis surat kepada kepausan Roma akan keluhan ia terhadap orang orang Kristen yang meniru-niru pakaian orang Islam dan kebiasaan mereka.

Seperti wanita wanita Kristen yang memakai hijab yang menunjukkan kehormatan dan malu. Bahkan seorang penunggang kuda malah memakai kopiah dan burnus (jubah dengan tutup kepala) dan meletakkan sejadah permadani di dudukan kuda mereka karena merasa bangga dengan indahnya pakaian ala Islam yang penuh corak dan warna melambangkan kehormatan. (Setelah beberapa ratus tahun kemudian, baju Burnus adalah simbol perlawanan penjajahan perancis terhadap Aljazair).

Bahkan mereka juga memanjangkan janggut mereka dan meminyakinya agar mirip kaum muslimin. Memakai sandal seperti sandalnya kaum muslimin, bahkan seorang raja bernama King Baldwin tahun 1100 – 1118 Masehi, juga menganti baju kebesaran Eropanya dengan baju ala Islam dan memanjangkan janggutnya, yang mana hal ini tidak pernah dilakukan raja Eropa.

Seorang Raja Antioch yang bernama Tancred mengeluarkan dekrit agar mencetak uang koin dengan gambar dia sambil mengenakan baju Islam.

KEBERSIHAN

Orang orang Eropa mulai belajar kebersihan melalui kaum Muslimin. Bahkan kalau bukan karena perang salib, mereka tidak bakal mengenal mandi dan kebersihan seperti sekarang.

Seorang wanita orientalis Jerman yang bernama Sigrid Hunke dalam bukunya (Allahs Sonne über dem Abendland):

“Suatu ketika ada seorang ilmuwan Andalusia yang bernama At-Tortushi yang sedang berkeliling Prancis mendapati perkara yang membuat bulu kuduknya merinding, karena ilmuwan itu adalah seorang Muslim yang senantiasa mandi dan wudhu 5 kali sehari.

Dengarkanlah apa yang dikatakannya,”Jika engkau melihat orang Prancis, maka tidak ada yang lebih kotor dan jorok dibanding mereka. Mereka tidak membersihkan badan sendiri, mereka juga tidak mandi selama setahun kecuali sekali atau dua kali saja, Adapun pakaian orang perancis tidak pernah mereka cuci setelah mereka memakainya, bahkan hingga baju itu lusuh dan compang camping.”

Kemudian Sigrid Hunke berkata,”perkara seperti ini memang wajar tidak bisa dilihat orang orang Arab, yang mana kebersihan itu adalah kewajiban dalam agama mereka, di samping itu daerah Arab sangat panas. Bahkan, ketika itu saja di Baghdad sudah ada ribuan pemandian air panas yang tersebar di mana mana.”

Kebiasaan “tidak mandi” ini berlangsung selama ratusan tahun, pemandian mewah dan shampo pertama kali di Inggris dibawa oleh seorang pelancong Muslim India, bernama Sheikh ad Din Muhammad atau dalam dialek inggrisnya adalah Sake Dean Mahomed.

Dia memiliki pemandian air panas, shampo, wewangian, dan juru pijat. Tapi kemudian dia murtad akibat pergaulan Barat. Waliyadzu billah.

Fakta fakta yang dipaparkan di sini bukan sekedar isapan jempol semata, namun ia adalah kenyataan pahit dan memalukan yang akan kekal dalam buku buku sejarah Timur dan Barat.

Lebih dari itu, ada seorang Ratu Kerajaaan Castile yang bernama Isabella yang naik tahta tahun 1474 Masehi, ia sangat merasa bangga dan terhormat karena selama hidupnya ia tidak pernah mandi kecuali hanya dua kali saja; pada hari kelahirannya tahun 1451 M dan pada hari pernikahannya tahun 1469 M. (lihat: The Moorish Civilization in Spain – Joseph McCabe, Hal 105 terjemahan Arab).

Ratu Isabela ini dikenal sebagai maniak eksekusi dan salah satu pelopor inkuisisi yang menyebabkan genosida muslim Spanyol dan Yahudi serta eksodus besar-besaran ke Afrika.

Begitulah kira-kira pengaruh besar Islam pada kebudayaan Eropa. Namun sebagaimana disebutkan bahwa sejarah akan ditulis pemenang, baik itu dengan licik ataupun dengan cara keji lainnya. Tetapi fakta tidak bisa dimanipulasi. Muslim yang baik adalah yang tidak pernah melucuti sejarahnya.

Dengan sejarah yang otentik, kita bisa berkaca akan peradaban kita yang dicuri. Sehingga kita sadar bahwa agama kita ini adalah sebab musabab segala peradaban modern yang dunia kini nikmati.

Semoga tulisan ini memberi pencerahan bagi kita semua.

Walhamdulillahi rabbil alamin.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*