Lagi, Media Berdusta Memberitakan Pemerintah Arab Saudi Menutup Akun Twitter Imam Masjidil Haram

Lagi-lagi, media berita online kembali melakukan kebiasaannya, ramai menyiarkan berita tanpa crosscheck ke sumber utama yang diberitakan.

Terutama, jika berita yang merugikan atau mendiskreditkan Arab Saudi, mereka berlomba-lomba dan menuliskan sebagai headline berita.

Tidak tanggung-tanggung, Tempo edisi online, pada 11 April 2018, menulis judul berita: “Arab Saudi Tutup Akun Twitter Imam Masjidil Haram.”

Hal serupa juga dilakukan media nasional Republika.co.id, diikuti media sekelas Arrahmah.comVOA-Islam, Kiblat.net dan lain media yang semisal.

Padahal, mereka hanya bermodal menerjemahkan dari media yang dikenal anti Arab Saudi, baik secara politik maupun pandangan beragamanya.

Diketahui berita tersebut diviralkan oleh Middle East Monitor, dengan judul : “Saudi Arabia closes twitter account of Makkah Imam“, dengan mengatakan bahwa berita dikutip dari situs alkhaleejonline.com.

Lucunya, sumber utama pemberitaan di atas adalah, situs alkhaleejonline.com hanyalah situs barang perabotan.

Lantas, mengapa begitu senang dan tanpa malu media nasional maupun internasional menulis laporan tersebut?

Media sekelas Tempo atau Republika, apalagi yang berbasis agama Islam, seperti arrahmah, voa-islam atau kiblat dipastikan wartawannya memiliki bekal kemampuan memahami bahasa Arab.

Mereka sejatinya mampu mencari kepastian berita tersebut benar atau hoax, di antaranya mengakses media berbahasa Arab lokal Arab Saudi ataupun Timur Tengah pada umumnya.

Bahkan, sebagai media profesional, mereka idealnya melakukan cover both side ke sumber berita langsung, ke Kepengurusan Umum untuk Urusan Masjid Al-Haramaian Asy-Syarifain, baik melalui korespondennya atau melacak di situs resminya.

Beberapa media lokal di dalam negeri Arab Saudi dan Timur Tengah, bisa dengan mudah dicari tahu bantahan Ketua Kepengurusan Umum untuk Urusan Haramain Asy-Syarafain, Syaikh Abdurrahman As-Sudais atas berita tersebut.

Syaikh Sudais telah menegaskan bahwa para Imam Haramain tidak memiliki akun di media sosial, seperti Twitter dan Facebook.

Penegasan ini juga mengungkap bahwa akun-akun di media sosial yang mengatasnamakan nama mereka adalah akun palsu.

“Para Imam Haramain tidak meliki akun di media sosial untuk menjaga status, martabat, dan kebaikan mereka dalam melayani dua masjid Suci,” ungkap Syaikh Muhammad bin Mohammed Al Mansouri, Juru Bicara Kepengurusan Umum untuk Urusan Haramain Asy-Syarafain, seperti dilansir eremnews, Ahad (8/4/18), yang dikutip moslemtoday.

Al-Mansouri menambahkan bahwa adanya akun palsu di media sosial yang mengatasnamakan para Imam Haramain sengaja dibuat oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab untuk menciptakan kebingungan dan diisi postingan yang kontroversial untuk menciptakan efek negatif terhadap Kerajaan Arab Saudi.

Anda dapat menebak, apa maksud dari pemberitaan semacam di atas yang bukan sekali atau dua kali, bahkan telah menjadi rutin oleh media nasional maupun internasional.

Adpun pemberitaan positif atau kabar baik dari Arab Saudi, meida-media tersebut enggan menurunkan laporan berita atau jika diberitakan diambil sisi negatifnya. Allahul musta’an.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*