Tidak Ada Istilah Wahabi di Negeri Nabi Ini

“Boleh benci; tapi tetap adil dan hati-hati.”

Muhammad bin Salman selaku putra mahkota yang mewakili saudi mengatakan: “kami tidak mengenal yang nama nya WAHABI di negri ini, tapi ada suku ‘alu syekh dan ‘alu su’ud serta ribuan suku terkenal lainnya, namun tidak ada yang namanya wahabi”, begitu ujarnya ketika menjawab wawancara oleh salah satu majalah di Amerika.

Apalagi yang suka mengkafir kan orang, bahkan di Arab Saudi ada sebuah lembaga khusus yang memerangi pemikiran-pemikiran takfir atau yang suka mengkafir kaum muslimin.

Ataukah istilah wahabi ini karena menetapkan nama dan sifat Allah yang Maha Mulia?

ISTIWA‘ misalnya, kita sering mendengar bahwa ciri-ciri wahabi itu mengatakan Allah di atas ‘arsy.

Subhanallah!!! Yang mengatakan Allah di atas ‘arsy itu Allah, bukan kita, karena tidak ada hak kecuali mengatakan seperti yang dikataan Allah terhadap diriNya.

Bahkan para ulama mengatakan IJMA‘ ( sepakat ) bahwa Allah ber-istiwa‘ di atas ‘arsy, sebagaimana juga yang di nukilkan Imam Abu Hasan al-Asy’ari dalam kitabnya.

Adapun arti istawa‘ dengan istila‘ (menguasai), itu adalah sebuah kekeliruan, apakah Allah tidak menguasai ‘arsy sehingga butuh untuk kembali menguasainya?

Bahkan Allah mengusai seluruh jagat raya ini.

Allah ber-istiwa‘ di atas ‘arsy bukan berarti Allah butuh dengan ‘arsy sebagaima langit dan udara di atas bumi dan langit serta udara tidak butuh kepada bumi.

Allah bersemayam di atas ‘arsy bukan berarti seperti kita duduk di atas kursi, karena itu adalah penyerupaan Allah dengan makhluk.

Contoh 1: Kita mencintai seseorang, cinta tersebut dari dalam hati.  Bukit uhud adalah bukit yang mencintai kaum muslimin, walaupun dia benda mati. Sama-sama mencintai, tetapi berbeda hakikatnya.

Contoh 2: Kita berbicara menggunakan lidah dan mulut, batu dan pohon kurma juga berbicara sebagaimana mereka berbicara kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Sama-sama berbicara tetapi berbeda hakikatnya.

Ketika Allah mengatakan Dia bersemayam di atas ‘arsykita beriman. Tanpa kita samakan dengan makhluk, tanpa di ta’wil, sedangkan hakekatnya hanya Allah yang tahu, karena Allah tidak memberi tahu hakekatnya.

Sebagaimana antara satu makhluk dengan makhluk lainnya berbada, maka Allah lebih pantas untuk tidak sama.

Adapun perkataan: Allah tidak di atas tidak di bawah, tidak di depan tidak di belakang, tidak di kiri tidak di kanan, itu adalah perkataan filsafat Yunani kuno sebelum munculnya Islam.

Semoga bermamfaat, semoga Allah senantiasa memberi kita ilmu yang bermanfaat dan amalan yang diterima.

*) Ditulis oleh Ariful Bahri

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*