Serunya KAMISA Malam Ini

Pertemuan Keluarga Mahasiswa Indonesia KSU (KAMISA) pada Kamis, 5 April 2018 ini sangat meriah. Seperti biasa, acara dibuka dengan makan malam bersama dengan menu ayam sambal, semur telor, bergedel, dan sayur lalapan. Lezat banget deh. Masya Allah.

Usai makan bareng, panitia langsung membuka acara inti, dengan menghadirkan mahasiswa KSU yang baru saja menyelesaikan studi doktoralnya, Sutrisno Ibrahim, PhD.

Mas Sutris, demikian pria ini biasa disapa, memaparkan beberapa tips untuk menjadi pintu-pintu kebaikan. Ada empat poin penting yang disampaikan beliau.

Pertama, kata beliau, seseorang harus memiliki kapasitas diri, yaitu memiliki skill dan kemampuan dalam menghadapi kehidupan di masyarakat nanti.

“Kita harus punya kapasitas. Ini sangat penting sekali,” kata beliau.

Yang kedua, seseorang harus memiliki integritas dan kredibilitas. Untuk melakukan sesuatu, jangan sampai asal-asalan. Apapun profesinya, integritas ini sangat penting.

“Dalam dunia akademik, kalau sudah ketahuan melakukan plagiarisme, orang tidak akan percaya lagi. Atau misalnya pejabat. Kalau dia sudah ketahuan melakukan korupsi, maka publik tidak akan percaya lagi,” ujar beliau.

Pintu kebaikan yang ketiga, adalah mengambil peranan di masyarakat. “Jangan sampai keberadaan kita tidak berarti apa-apa di masyarakat. Kita harus membangun dan ambil peranan untuk masyarakat,” terang beliau.

Poin yang terakhir, doktor dalam bidang ilmu elektro ini berpesan agar para mahasiswa dapat memberikan kontribusi yang nyata bagi masyarakat. “Kita harus pikirkan, langkah apa yang kita lakukan untuk kontribusi nyata dalam masyarakat,” tegas beliau.

Mas Sutris sendiri saat ini sudah mulai merintis pembangunan pesantren dengan berbasis masyarakat. Yaitu pesantren yang santrinya adalah masyarakat sekitar.

“Pesantren masyarakat itu santrinya masyarakat, menyatu dengan masyarakat, dan tak ada tembok pemisah antara pesantren dengan masyarakat,” terang beliau.

Alasan Mas Sutris memilih mendirikan pesantren masyarakat, karena saat ini masih sedikit pesantren yang didirikan dengan konsep ini. Langkah yang akan dilakukan pada pesantren ini berupa pembinaan kepada warga setempat, remaja dan anak-anak.

“Ada majelis taklim, pembinaan remaja, dan pembelajaran anak-anak TPA,” ucap beliau.

Saat ini Mas Sutris sudah mendirikan masjid, yang dananya berasal dari donatur kenalan dan teman-temannya.

“Sementara tidak menerima bantuan dari luar negeri ya. Ini kita lakukan dari teman-teman dan donatur lokal. Ini dilakukan untuk mengukur seberapa besar kemampuan kita,” papar beliau.

Pesantren masyarakat yang didirikan Mas Sutris ini bernama Hubbul Khoir, yang berarti Cinta Kebaikan. Pesantren ini bertempat di Sukoharjo, tak jauh dari Solo.

“Sengaja saya pilih nama ini, karena diharapkan kita Cinta kepada kebaikan dan menjadi pintu-pintu kebaikan,” jelas beliau.

Mas Sutris dan keluarga akan pulang kampung pada bulan Mei mendatang. Selain mengasuh pesantren, beliau juga akan mengajar di salah satu universitas di Solo.

Terima Kasih Mas Sutris yang telah menginspirasi.

Ditulis oleh: Ust Budi Marta Saudin

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*