Rezeki “Min Haitsu Laa Yahtasib”

Sebuah pengalaman hidup masyarakat Indonesia pada sebuah pengajian di salah satu kota di Wilayah Timur Arab Saudi. Beginilah gaya hidup setiap muslim semestinya, ada lima pelajaran penuh hikmah untuk kita renungkan…..

Tadi malam, lagi santai-santai menunggu kajian di Masjid Toyota Dhahran KSA dimulai, tiba-tiba ada seorang laki-laki Saudi menghampiri kami yang berjumlah sekitar delapan orang.

Dia bertanya, “Kalian semua dari Filipina?”

“Bukan, kami dari Indonesia,” jawabku.

Dia melanjutkan, “Masyaallah-masyaallah. Sebentar ya, saya akan kasih kalian semua hadiah.”

Tiba-tiba, dia mengeluarkan uang kertas ratusan reyal beberapa lembar dari sakunya. Lalu satu persatu dari kami diberi 100 reyal.

Masyaallah… Bikin kaget, kirain ada apa, ternyata ada rezeki “min haitsu laa yahtasib.”

Setelah menerima, kami mengucapkan terima kasih dan mendoakan kebaikan dan keberkahan bagi beliau.

Namun beliau minim kata-kata dan berlalu meninggalkan kami begitu saja. Seakan-akan tidak mengharap dari kami meskipun ucapan “syukron.” Jazaahullahu khoiron.

Biasanya, cerita seperti ini kami dengar dari mahasiswa UIM (Universitas Islam Madinah) yang terkadang mendapatkan amplop dari muhsinin di sana. Tadi malam, akhirnya kami ikut merasakannya.

Mungkin jumlah kami dan uang yang diberi tidak sebanyak jumlah mahasiswa UIM dan uang yang mereka terima, namun banyak pelajaran berharga yang kami petik dari kejadian tadi malam.

Lalu apa pelajarannya? Berikut di antaranya:

Pertama, semoga rezeki tadi malam termasuk keberkahan bersegera mendatangi majelis ilmu. Umat ini diberkahi dalam kesegeraannya. Teman-teman yang terlambat datang, tidak mendapatkan rezeki tersebut walaupun hanya berselisih semenit saja. Bahkan ketika seorang Saudi tersebut keluar masjid, ia berpapasan dengan teman kita. Tetapi tetap saja belum rezekinya.

Kedua, rezeki yang mengatur Allah semata; apa yang sampai kepada kita tidak akan luput dari kita, apa yang luput dari kita mustahil akan sampai kepada kita. Kita harus meyakini benar hal ini.

Ajibnya, di antara kami yang menerimanya, setelah acara kajian usai dia kehilangan 100 reyal tersebut. Dicari-cari tidak ketemu juga. Masyaallah, demikianlah rahasia rezeki dari-Nya, terkadang datang dan pergi dalam hitungan singkat.

Oleh karenanya, kita yang berkecukupan hendaknya pandai bersyukur kepada Allah subhanallahu wa ta’ala. Sangat mudah bagi-Nya untuk mengambil titipan harta yang ada pada kita, dalam hitungan hari atau kurang dari itu.

Ketiga, kami berdelapan tadi malam tidak merasa menjadi orang-orang yang benar-benar bertakwa, namun kami terus berusaha agar menjadi hamba yang benar-benar bertakwa kepada-Nya. Namun, Allah memberikan rezeki min haitsu laa yahtasib.

Lalu, bagaimana bila seorang benar-benar bertakwa kepada-Nya, niscaya rezeki dari-Nya akan benar-benar lancar jaya. Allahumma lakal-hamdu wasy-syukru.

Keempat, kami belajar dari seorang Saudi tersebut keikhlasan. Beliau memberi tapi tak harap kembali. Beliau membagi-bagi dan langsung pergi meninggalkan kami. Tanpa ada kata-kata ini dan itu. Bahkan seolah-olah ucapan syukron pun dilupakannya.

Kelima, ini merupakan setetes dari derasnya kebaikan yang dilakukan oleh warga asli Saudi. Kisah nyata kebaikan yang lainnya masih sangat banyak sekali. Allahu a’lam.

Semoga cerita singkat ini dapat diambil manfaatnya. Baarokallahu fi amwaalikum. 

*) Sebagaimana ditulis-ceritakan oleh Ust. Muhammad Sulhan, da’i di ICC Dammam.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*