Seseorang Membolehkan Perayaan Valentine: Tidak Puas Pemerintahnya, Ulama Saudipun Tak Luput dari Tuduhan Dusta

Belum hilang ingatan pemelintiran fatwa Syaikh Abdullah al-Muthlaq tentang abaya, media sekuler dan pendukungnya kini ramai mem-blow up pendapat “nyeleneh” Ahmad Qasim Al-Ghamdi, seorang bekas polisi agama (Haiah Amr bil Ma’ruf wa Nahyi anil Munkar) Makkah, Arab Saudi.

Al-Ghamdi, bukan pertama kalinya mengemukakan pendapat di kanal Al-Arabiya pada 13 Februari lalu, yang mengatakan bahwa perayaan “Hari Kasih Sayang” Valentine merupakan perayaan yang tidak ada hubungannya dengan agama, tetapi sekedar “masalah sosial yang umum dimiliki oleh umat manusia.”

Beberapa tahun silam, Al-Ghamdi yang dipecat dari tugasnya sebagai Ketua Polisi Syariah Cabang Makkah, menunjukkan pemikiran yang melawan mainstream di Arab Saudi. Dari mulai pendapatnya bahwa hijab hanya dikhususkan untuk istri Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam, membolehkan percampuran antara laki-laki dan wanita, hingga menampilkan wajah istrinya tanpa cadar di salah satu acara televisi.

Pendapat pribadi semacam di atas, segera saja menjadi santapan renyah media yang selama ini ingin menjadi corong propaganda anti Arab Saudi. Uniknya, pendapat yang menyalahi jumhur ulama, di-framing menjadi pendapat ulama Arab Saudi.

Padahal, sejak Al-Ghamdi berbicara yang aneh-aneh tentang syariat Islam, ulama kibar Saudi telah banyak menyampaikan nasehat, bantahan, hingga meminta pemerintah Arab Saudi menangkapnya serta memberikan sanksi kepada media yang ikut menyebarkan pendapat yang menimbulkan fitnah di tengah masyarakat.

Habib dan Pencintanya Menuduh Saudi

Maraknya berita di atas, menggiring beberapa orang menyerang Arab Saudi, baik pemerintah maupun ulamanya. Habib Nabiel al-Musawa, misalnya, menulis di akun Instagram-nya:

Dan sekarang ulama2 kalian malah merayakannya..? Dan berkata bahwa; “Hari Valentine itu sesuai dg etika kemasyarakatan yg dibolehkan dlm Islam, sepanjang tidak dicampuri dg hal2 yg melanggar aturan syariat.” (Lihat capture di TV kalian di foto diatas itu).. Inna liLLAAHi wa inna ilayhi raji’un.. Lalu bagaimana kalian menolak Maulid Nabi SAW tapi memfatwakan bolehnya Valentine Day..? Bagaimana kalian bisa menghalalkan sebagian dan mengharamkan sebagian..? Fa’tabiru yaa ulil Abshar..! ?❤?

Tiga hal yang perlu dikoreksi adalah;

  • Dia menyebutkan “ulama2” padahal hanya satu orang yang bahkan oleh banyak orang di Saudi bukan disebut sebagai “ulama” yang layak diambil ilmunya.
  • Pendapat Al-Ghamdi sebagaimana yang dirujuk oleh Habib Nabiel, bukan pendapat jumhur ulama Saudi, tetapi pendapat pribadi yang selayaknya tidak dipublikasikan untuk umum, kecuali jika ingin menimbulkan fitnah.
  • Ahmad Qasim Al-Ghamdi, justru membolehkan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, wajar saja jika dia juga membolehkan Valentine Day.

Sang Habib, untuk memastikan bahwa tulisanya di instagram tidak dikatakan hoax, menyertakan foto beberapa orang berjubah dan bernampilan layaknya ulama membagi-bagikan bunga dalam rangka Valentine Day. Padahal, foto tersebut diambil tahun 2015 di jalanan Muhafadzh Al-Ras.

Tidak lupa, dia menyertakan capture siaran berita di televisi Al-Arabiya, untuk menguatkan tuduhannya, yang ingin menggiring bahwa itu adalah keputusan ulama dan pemerintah Arab Saudi. Al-Arabiya seperit juga Arabnews, tidak lebih dari media sekuler yang meskipun berkedudukan di Timur Tengah, tidak ada jaminan televisi harus selalu syar’i.

Perhatikan orang-orang awam juga termakan isu di atas, seperti status di grup FB di bawah ini, wallahul musta’an.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*