Antara Koboi Amerika dan Kakek Tua di Afrika

Sebagian orang ada yang tergila-gila dengan jepang, hingga ingin makam, hidup dan mati di sana. Hanya karena ia menonton kartun anime yang mengunggah hatinya dan ia pun terbawa arus khayalan yang tidak habis habisnya.

Ada yang bermimpi ingin tinggal di Amerika lantaran ia menonton video koboi penunggang kuda yang hebat dan berhasil menyelamatkan manusia dan membasmi para penjahat.

Ada pula yang berharap ingin tinggal di Korea setelah menonton drama muka plastik artisnya, lagu-lagunya, dan kisah romantisnya. Apalagi ditambah instrumen musik yang mendayu-dayu membuat hati semakin terikat akan itu.

Apa yang mereka lakukan ?

Di belahan bumi lain di pedalaman Afrika, seorang kakek tua yang hanya mengenal cangkul dan kambing berkata, “Bisakah kalian antarkan aku ke kota mekkah?”

Sementara itu, seorang muallaf di Jepang yang mendapat kesempatan umrah dari Kerajaan Arab Saudi menangis tak henti-hentinya ketika menginjakkan kakinya ke tempat yang paling diberkahi di dunia ini.

Ia berkata, “alangkah senangnya jika kakek nenekku masuk Islam dan merasakan manisnya iman.” Ia pun kembali ke dalam tangisan syahdunya.

Ya… dunia ini terkadang aneh.

Kenapa hal-hal haram itu indah dan begitu membuat terbang ke alam mimpi.

Kenapa film kaum yang tidak pernah bersujud kepada Allah itu lebih berpengaruh daripada kisah nyata yang akan abadi hingga akhirat dari perjuangan Rasulullah, dan sikap cintanya para sahabat kepada beliau hingga rela menyumbangkan harta dan jiwanya demi tegakknya kalimat tauhid itu.

Lalu kenapa kita begitu ringan mengotori hati kita dengan sesuatu yang tidak nyata dan tidak mungkin akan menjadi kenyataan.

Apakah kita lupa bagaimana penderitaan Amar bin Yasir, yang ibu dan bapaknya dieksekusi di depan kufar Quraish, lalu ia kembali kepada Rasulullah dengan menangis karena berpura-pura mengatakan “saya kufur,” agar dilepaskan padahal Rasulullah membolehkannya?

Ataukah kita lupa bagaimana tangisan para sahabat yang miskin dan faqir tapi ingin berjihad, karena tidak memiliki unta dan bekal sehingga tidak bisa berjihad? Mereka menangis karena tidak mampu, tidak ada yang bisa mereka sumbangkan.

Sahabat itu berkata,” Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah mengajak kami untuk berperang bersamamu, bawalah kami ini walaupun dengan onta yang paling kecil dan tua agar kami bisa berjihad bersamamu.”  Maka beliau berkata,”Aku tidak lagi mendapat sesuatu untuk kamu kendarai.” Lalu mereka menangis sejadi-jadinya hingga turunlah firman Allah surah at Taubah ayat 92:

“dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”. lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.”

Aduhai kiranya semakin jauh dari masa kenabian dan dekatnya masa kiamat.

Semakin berat jika kita berpegang pada agama.

Namun demikian pahala besar bagi yang bersabar padahal ingin.

Dan terus bersabar hingga ia bertemu Allah Ta’ala.


Admin Suara Madinah

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*