Ada yang Harus Ditiru dan Dibuang yang Buruk

Sebagai seorang ‘ajami (non Arab), sering kita dapati banyak perbedaan dengan orang Arab, dalam hal kebaikan atau keburukan. Tidak perlu kita sampaikan keburukan kita atau orang Arab.

Yang ingin kita ambil sebagai pelajaran selama hidup di negeri Arab Saudi, adalah kebaikan budi pekerti pribumi untuk melengkapi tata krama orang Indonesia yang sudah dikenal “miah bil miah.”

Selalu Menyandarkan Segala Sesuatu Kepada Allah

Kebiasaan mereka selalu tidak luput dengan penyandarannya kepada Allah, sang Rabb. Ketika melihat sesuatu yang takjub mereka sebut “maa syaa Allah” dan ketika sesuatu yang aneh, diucapkan “subhanallah.”

Sering kali kita baca di kaca belakang mobil-mobil kalimat “maa syaa Allah wa tabarakallahu” atau juga shalawat kepada nabi. Itu semua, tidak lain mereka bermaksud ingin menghindari penyakin “‘ain,” meskipun sebagian ulama tidak menyetujui penulisan seperi itu. 

Banyak Memuji dan Mendoakan

Fenomena ini bisa kita saksikan dan dengar langsung ketika dua orang Arab bertemu, kemudian lihat apa yang diucapkan selain ‘say hello.‘ 

Mereka saling mendoakan dengan lafadz kalimat yang bermacam-macam bentuknya; “hayakallah,” “Allah yubqiik,” “Thoola umrok,” atau sapaan-sapaan manis yang bagi orang kita mengucapkannya masih terasa kelu di lidah; “habibii,” “ya toyyib.”

Untuk bertegur sapa saja, selain “cipika-cipiki” khasnya, kalimat pembukanya sangat beragam dan bisa lebih lama dari isi pembicaraan saat pertama kali bertemu!

Kepada yang tidak kenal, dipanggilah “Ya Muhammad,” sebagai penganggungan dan kecintaan kepada orang asing tersebut sebagaimana kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penamaan ini bukan seperti anggapan seseorang yang jahil, yang dikiranya sebagai hinaan.

Orang Yaman, biasa dipanggil “Abu Ali,” karena lamanya Presiden Ali Abdullah Saleh, memimpin Yaman. Atau orang Mesir disapa “Ya Basya” dan seterusnya.

Wanita Sangat Dilindungi

Wanita diperlakukan bak ratu. Tradisi yang semakin terkisi, di antaranya menutup badan wanitanya dengan ‘abaya dan wajahnya denga niqab. Mereka diusahakan dijauhkan dari fitnah.

Di tempat umum, wanita pasti mendapat kemudahan yang lebih dari pada laki-laki, seperti di lokasi antrian dan semisalnya. 

Meskipun dewasa ini, wanita mulai dibukakan kerannya untuk lebih bermuamalah lebih luas di luar rumah, seperti izin menyetir dan menonton pertandingan di stadion.

Peraturan Selalu Bersendikan Agama Islam

Qadhi yang bertugas di pengadilan Arab Saudi, tidak menerapkan hukum Anglo Saxon Eropa atau mengekor Common Law Amerika. Dunia ekonomi pun, negara mewajibkan zakat, meskipun akhir-akhir ini menerapkan pajak untuk produk dan jasa tertentu dan terkecil sedunia (5%). 

Perhatikan salah satu jenis pelanggaran di Arab Saudi pada tahun 1351 H di bawah ini.

Pria yang mencukur lihyah (jenggot) dan tidak memeliharanya akan didenda 10 qurush.

Tidak Ada Sesembahan Selain Kepada Allah

Meskipun ditulis di akhir, tetapi ini menjadi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Saudi. Betapa banyak terowongan yang menembus gunung di Makkah, tidak satupun memerlukan sesajen kepada “penghuni gunung” atau permisi kepada siapapun kecuali memohon taufiq kepada Allah .

Bandingkan dengan kebiasaan sebagian masyarakat yang masih harus percaya kekuatan selain Allah, mengakui keberadaan penghuni sebuah lembah, laut atau gunung. Kesyirikan di negeri Arab telah terkikis habis dengan kuatnya tauhid dalam masyarakatnya.

Tidak heran jika setan telah berputus asa di negeri Arab ini:

“Sesungguhnya setan telah putus asa untuk disembah (kaum muslimin) yang sholat di Jazirah Arab, akan tetapi dia belum putus asa untuk memecah belah di antara mereka.” [HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma]

ditulis oleh jalal

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*