Puluhan Perawat di Arab Saudi Dipenjarakan Karena Pemalsuan Sertifikat

Beberapa perawat berasal dari India dan Filipina diduga telah memalsukan sertifikat pengalaman kerja agar dapat diterima bekerja di Arab Saudi. Saudigazzete (10/12) melaporkan bahwa puluhan perawat dijebloskan ke penjara setelah tiba di tempatnya bekerja dan dilarang meninggalkan Arab Saudi sambil menunggu penyelidikan.

Pemalsuan tersebut ditemukan oleh tim ahli dari Kementerian Kesehatan Arab Saudi selama penyaringan perawat yang direkrut melalui konsultan tenaga kerja terkemuka di Manila dan New Delhi. Menerut rencana para perawat tersebut akan ditempatkan di pusat kesehatan pemerintah di berbagai wilayah Arab Saudi. Beberapa di antaranya, dipekerjakan di rumah sakit swasta.

Kantor rekrutmen yang memberangkatkan para perawat tersebut, menyatakan bahwa mereka telah memenuhi kualifikasi yang cukup dan memiliki sertifikat akademik yang sebenarnya. Namun, mereka memalsukan sertifikat pengalaman kerja, dengan menambahkan pengalaman jam kerja lebih dari yang sebenarnya. Hal ini diduga dilakukan sebagai cara agar lebih mudah diterima bekerja dan berkolusi dengan agen perekrutan.

Tim Kementerian Kesehatan Arab Saudi juga mengungkapkan bahwa dalam beberapa kasus, agen rekrutmen melakukan sertifikat pengalaman kerja palsu tanpa sepengetahuan perawat yang diberangkatkan ke Arab Saudi. 

Beberapa agen telah berbuat curang telah mencemari reputasi perawat sebagai pekerja keras dan berkualitas dari negara-negara ini, sebagaimana sumber resmi di Kemenkes Arab Saudi.

Sementara perawat yang terbukti bersalah melakukan pemalsuan sertifikat, telah diajukan di berbagai penjara di Makkah, Riyadh, Provinsi Timur, Qassim dan daerah lainnya.

Sedikitnya 12 perawat dari Filipina telah ditangkap di Jeddah dan kota-kota lain di provinsi Makkah, 30 orang lainnya menghadapi penyelidikan di Riyadh dan Provinsi Timur.

Sejumlah besar perawat dari India juga menghadapi nasib yang sama untuk pemalsuan sertifikat, menurut sumber di Kemenkes Arab Saudi.

Jaksa Penuntut Umum yang menangani kasus ini, berkoordinasi dengan Komisi Kesehatan Khusus Saudi (SCHS) dan di bawah pengawasan pemerintah provinsi.

Salah satu dari tiga perawat India yang ditangkap di Taif, dipastikan tidak bersalah oleh pengadilan, dengan memerintahkan Kemenkes untuk melepaskannya dari tuntutan. Namun, pihak Kemenkes tidak mengizinkan untuk bekerja dan memulangkan ke negara asalnya. Sementara yang sejumlah perawat ada yang dibebaskan dengan jaminan dan sebagian lainnya berada dikurung di penjara. Saat ini Konsulat India sedang berupaya untuk membebaskannya, sebagaimana laporan Saudigazette.

Dalam kasus sebelumnya di Qassim, seorang perawat dapat membuktikan bahwa dia tidak mengetahui bahwa sertifikat palsu yang diajukan agen di India atas namanya. Namun, dia dikenakan denda dan dideportasi ke negaranya, setelah permintaan bandingnya tidak berhasil.

Diduga, beberapa perawat yang memiliki sertifikat palsu telah meninggalkan Arab Saudi lebih dulu, sebelum penyelidikan dimulai untuk menghindari konsekuensi hukum.

Selain perawat yang baru direkrut, beberapa perawat yang telah lama bekerja di beberapa pusat kesehatan di Saudi juga menghadapi masalah yang sama. Pihak berwenang mewajibkan mereka yang terbukti melakukan pemalsuan tersebut, harus menyerahkan sertifikat yang asli untuk pembaharuan lisensi.

Di Yanbu, seorang perawat dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di sebuah klinik swasta telah ditangkap atas tuduhan pemalsuan sertifikat. Perawat lain ditangkap di Badar, sementara dua lainnya di Dammam, terpaksa harus mendekam atas tuduhan serupa.

SCHS telah mewajibkan semua profesional kesehatan di sektor swasta dan publik untuk menghasilkan sertifikat akademis dan pengalaman sebelum dikeluarkan atau diperbaharuinya lisensi untuk menjalankan profesinya di Arab Saudi.

Langkah serupa juga dilakukan sebuah badan internasional yang melakukan verifikasi sertifikat di India, Filipina, Mesir dan negara-negara lain. 

Seorang pejabat dari SCHS telah mengatakan kepada Saudigazette, bahwa pemalsuan sertifikat bukanlah masalah utama yang ditangani dalam beberapa tahun terakhir. Akan tetapi, Kemenkes memprioritaskan standar tertinggi dalam kualitas dengan akreditasi internasional. Verifikasi sertifikat profesional kesehatan merupakan salah satu kriteria untuk akreditasi tersebut. SG

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.