Yayasan King Abdul Aziz Merilis Film Peran Tentara Arab Saudi di Palestina

Yayasan Abdulaziz untuk Penelitian dan Arsip (Darah) merilis sebuah film dokumenter, “The Call of Nobility,” tentang peran Angkatan Darat Saudi di Palestina pada tahun 1948. Film ini dipublikasikan di saluran YouTube resmi yayasan dan diumumkan di akun resminya di Twitter.

Selama 1 jam, dokumentasi audio visual tersebut menceritakan tentang peran Arab Saudi dalam masalah Palestina dan keikutsertaannya dengan pasukan Arab untuk menyelamatkan Palestina dari pendudukan Zionis pada tahun 1948.

Film ini juga memuat wawancara dan pertemuan dengan sejarawan dan penulis Arab Saudi dan Arab. Di antaranya pelaku sejarah yang berbagi kenangan tentang partisipasi mereka dalam perang 1948.

Raja Abdul Aziz dari awal sangat menaruh perhatian dengan isu Palestina, oleh karenanya mendukung penuh atas perjuangannya, jelas Yousef Al-Thaqafi, seorang sejarawan dan penulis Saudi.

“Raja Abdul Aziz berperan dalam bidang diplomatik untuk mendukung masalah Palestina,” katanya. “Dia mengirim pesan kepada politisi Barat yang mengingatkan mereka akan prinsip Piagam Atlantik yang dikeluarkan selama Perang Dunia II dan disepakati oleh negara-negara Barat. Untuk mendapatkan dukungan mereka, dia mengingatkan mereka akan prinsip-prinsipnya yang mengatakan; tidak ada perubahan teritorial yang harus dilakukan terhadap keinginan rakyat, dan orang memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri dan kebebasan. ”

Dia menambahkan, “Raja Abdul Aziz juga memusatkan perhatian pada upaya diplomatiknya untuk mengacu pada tahap-tahap hubungan antara Palestina dan Yahudi dan pemulihan hak Palestina atas tanah Palestina.”

Pada masa awal di Suriah, berkumpul tentara Saudi di Qatana dekat Damaskus untuk mendapatkan pelatihan militer yang kemudian dikirimkan ke tanah pertempuran di Palestina. Kontribusi militer Arab Saudi tidak terbatas pada tentara nasional, tetapi juga melibatkan banyak relawan. Saat itu, Raja Abdul Aziz membuka pintu pendaftaran menjadi sukarelawan untuk menyelamatkan Palestina atas undangan Liga Arab.

Ibrahim Al-Otaibi, salah satu peserta pertama dalam perang 1948, mengatakan: “Ketika tentara Saudi memutuskan untuk berpartisipasi dalam perang tersebut, mereka tiba di Palestina dengan berjalan kaki. Mereka bertemu dengan perwakilan Saudi yang mengarahkan mereka untuk bergabung dengan pemimpin Palestina Abdul Qader Husseini. Memegang bendera Saudi, kami bertempur dan bisa membebaskan desa Malikya dan kemudian kami pergi ke desa Saasa di Lebanon dan kemudian Rama, dan kemudian desa Shajjra, dan kami dapat meraih kemenangan. ”

Ali Majid Qabban, seorang pensiunan jenderal, menjelaskan bahwa pasukan Saudi terdiri dari dua brigade perang yang ditugaskan untuk membela Kota Gaza bersama dengan pasukan Mesir, di lokasi strategis yang disebut Tabab Al-Mentar, sebelah timur Kota Gaza. Pasukan tersebut ditempatkan di sana untuk menyerang Yahudi di jalan yang menghubungkan Gaza ke kota Majdal di utara.

Fayez Al-Asmari, seorang tentara lain yang ikut dalam perang tersebut, mengatakan, “Para tentara Arab memegang kendali sampai perang dihentikan karena gencatan senjata. Jika bukan karena gencatan senjata yang dikenakan pada pasukan Arab, kita pasti menang. Kami tidak puas dengan gencatan senjata karena kami memegang kendali, dan tidak perlu diragukan cinta kami atas tanah Palestina dan rakyatnya.”

Ali Kurdi, seorang veteran berpangkat jenderal mengatakan, “Saya menulis surat kepada ayah saya di bulan Ramadan bahwa kita akan memiliki Idul Fitri di Tel Aviv. Kita menang, orang-orang Yahudi tidak dapat mengalahkan kita, mereka tidak memiliki tentara yang terorganisir karena mereka adalah kelompok bersenjata ekstremis, yang disebut ‘Haganah’.”

Tercatat, dari relawan Saudi yang ikut berperang mempertahankan Palestina, sebanyak 513, 134 di antaranya terbunuh, termasuk 34 yang terluka parah, dan 130 orang yang menerima medali dari raja.

Setelah gencatan senjata, pasukan Zionis mendapat dukungan dari berbagai pihak, dan lebih banyak lagi migran Yahudi tiba. Di antaranya banyak yang terlatih dan peran Arab terhadap isu tersebut mulai menurun setelah negosiasi dimulai di pulau Rhodes, Yunani, dengan mediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa antara Israel dan Mesir, Lebanon, Yordania dan Suriah.

Empat perjanjian Gencatan Senjata ditandatangani antara 24 Februari dan 20 Juli 1949, di mana disepakati “Green Line.”

Yayasan King Abdulaziz untuk Riset dan Arsip menjelaskan di akun Twitter resminya bahwa mereka akan terus menerbitkan video, foto dan dokumen tentang partisipasi Arab Saudi dalam perjuangan rakyat Palestina. AN

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*