Palestina: Antara Saudi dan Turki (Erdogan)

Saudi, “The Misunderstood Country

Banyak hater Saudi mempersoalkan mengapa Saudi hanya mengutus menteri Wakaf (Agama) dan bukan yang lebih tinggi pada pertemuan OKI. Hal ini dijadikan tudingan jika Saudi kurang serius dengan masalah Palestina. Pertanyaan lainnya adalah mengapa Saudi men-teroriskan Hamas?

Hal-hal di atas akan dengan mudah dijawab jika kita memahami bahwa Saudi tidak menginginkan kehadiran Iran dalam bentuk apapun. Iran, bagi Saudi adalah de-stabilisator kawasan. Berdasarkan laporan-laporan yang tidak bisa dibantah, semua gerakan teroris berinduk di Iran. Mulai dari Alqaeda hingga ISIS, ujung-ujungnya terkait Iran. Saudi terkena getahnya hanya karena, misalnya, beberapa aktor Alqaeda pernah menjadi warganegara Saudi.

Oleh karena itu, ketika Hamas mulai bermain mata dengan Iran, Saudi tidak akan mentolerir. Beberapa pertemuan petinggi Hamas dengan Khamenei membuat petinggi Saudi berang. Kalau ada yang bilang Saudi men-teroriskan Hamas karena pesanan Amerika, berarti mereka tidak paham kalau Saudi mendukung Palestina sejak 1935, sejak Saudi didirikan. 

Amerika dan Israel paham 2 hal: funding Palestina terbesar itu dari Saudi; dan, Saudi alergi dengan Iran. Jadi cara praktis mengamputasi perlawanan adalah Iran harus masuk bermain. Selanjutnya silakan dipikir sendiri. Ada ungkapan mutiara dari Syaikh Said Ruslan (meski beberapa pendapat beliau saya tidak sepakat), 

!فلسطين حررها عمر! ولن يحررها من يسب عمر! او يميل الي من يسب عمر

“Palestina dibebaskan oleh Umar (radhiyallahu anhu). Dan tidak akan bisa dibebaskan oleh mereka yang mencaci Umar (radhiyallahu anhu) atau bersama dengan para pencela Umar (radhiyallahu anhu).”

Jika ada info bahwa Saudi menjalin hubungan dengan Israel, bahwa Pangeran Salman telah berkunjungan ke Israel, dan informasi lainnya, itu hoax. Siapa yang membuatnya? Israel. Mudah mengeceknya.

Turki, “Beyond Rethoric”

Turki punya sejarah panjang dengan Yahudi, bahkan bisa dikatakan Turki saat ini lahir dari gerakan Yahudi melalui Young Turk. Erdogan pun mewarisi hal tersebut. Erdogan menjadi perdana menteri sejak tahun 2003 hingga 2014. Kemudian berlanjut menjadi presiden Turki menggantikan Abdullah Gul.

Sepanjang sejarah berkuasanya partai AKP yang mendukung Erdogan, tidak pernah sekalipun Turki memutus hubungan dengan Israel. Satu-satunya status “suspend” diplomatik antara Turki dan Israel terjadi ditahun 2010 pasca kejadian kapal Mavi Marmara. Namun hubungan tersebut kembali normal di tahun 2013 seiring permintaan maaf Netanyahu kepada Turki.

Turki punya kekuatan militer yang cukup besar. Tentaranya terbesar kedua di Eropa di bawah Jerman. Anggaran militernya pun cukup besar di urutan 15 dunia atau 2,2% dari GDP. Lalu mengapa Erdogan seperti hanya mengumbar retorika?

Para pengamat, yang benar-benar pengamat, menilai Erdogan tidak sekuat yang dikira para Erdogan-lover. Di Turki ada yang namanya “deep-state”, sebuah kekuasan bayangan yang digawangi militer. Kalau presiden macam-macam yang mengancam sekularisme, militer bertindak. Mirip di Indonesia.

Itulah sebabnya, pekerjaan rumah terbesar Erdogan di dalam negeri adalah menjinakkan militer (baca riset doktoral Dr. M. Alfian, “Militer dan Politik Turki”. Kalau beli yang seken di Yogya sudah 37 ribu).

Secara politik dalam negeri, partai AKP yang menjadi kendaraan Erdogan juga bukan mayoritas. Dalam pemilu 2014, partai AKP menang hanya dengan 45% suara. Itulah sebabnya, tantangan Islamisasi di Turki masih besar. 

Kita berharap Erdogan, dengan pertolongan Allah Jalla wa Ala’ dapat memperkuat Islam di Turki, sehingga lebih dapat membantu kaum muslimin di Palestina secara lebih kongkrit. Tentunya dengan memutus hubungan dengan Israel. 

Ditulis oleh Ismail Rajab

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*