Fatwa Meninggalkan Al-Aqsa dan Palestina

Apa benar Syaikh al-Albânî berfatwa agar kaum muslimin meninggalkan masjid Al-Aqsa dan mengosongkan palestina untuk Yahudi?

Begitu banyaknya tulisan bersliweran akhir-akhir ini, berasal dari orang-orang pandir dan para pendengki, yang mencela Syaikh Al-Albani lantaran salah faham dan berburuk sangka terhadap fatwa beliau tentang hijrahnya rakyat Palestina.

Duhai…… jika sekiranya kepandiran itu tidak dibarengi dengan kedengkian, maka kepandiran itu mungkin masih bisa tertutup. Namun jika kepandiran dan rasa hasad telah bersatu, maka sungguh memalukan dan musibahnya lebih besar.

Fakta tentang Fatwa syekh al-Albani seputar Palestina

Syaikh Al-Albânî tidak pernah berfatwa agar kaum muslimin meninggalkan masjid Al-Aqsa. Jika ada yang mengklaim maka;

هاتوا برهانكم ان كنتم صادقين

“Berikan bukti kalian jika kalian orang-orang yang benar.”

Jika tidak bisa membawa bukti yang valid, maka ketahuilah dia adalah seorang pembohong yang bodoh lagi memalukan.

Syaikh Al-Albânî tidak pernah berfatwa agar kaum muslimin mengosongkan palestina untuk diserahkan ke Yahudi. Sungguh kedustaan yang nyata!

Yang ada adalah Al-Albânî ditanya bagaimana hukumnya orang yang berada di Tepi Barat (West Bank/dhiffah ghorbiyah), yaitu sebuah wilayah di Palestina yang pada waktu itu menjadi objek kebrutalan Zionis, agar mereka berhijrah ke wilayah yang kedua, wilayah yang lain di dalam Palestina. Karena Palestina itu luas, ada Tepi Barat, Gaza dan tempat lainnya.

Perhatikanlah jawaban al-Albânî:

“Hendaknya mereka keluar dari tempat yang mana mereka belum memungkinkan mengusir orang-orang kafir tersebut, ke sebuah tempat yang memungkinkan menegakkan syiar Islam di dalamnya.“

Jangan Anda mengira fatwa ini datang dari hawa nafsu atau datang dari pesanan Yahudi, ma’âdzallah.

Demi Allah, al-Albânî jauh dari itu! Akan tetapi fatwa ini bersumber dari perintah Rabb semesta alam. Bukankah Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan zhalim terhadap diri mereka sendiri. Kepada mereka malaikat bertanya: ’Dalam keadaan bagaimana kamu ini? ‘Mereka menjawab: Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri Makkah.’ Para malaikat berkata: ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah (kemana saja) di bumi ini?” (QS. An-nisa: 97) – Lihat: Silsilah Huda wa Nur (الشريط 730 من فتاوى الشيخ الألباني)

Adakah yang salah dengan fatwa ini??

Duhai….. Sekiranya para pencela itu malu menampakkan kebodohannya! Namun sungguh rasa malu telah sirna….

إذا لم تستحي فاصنع ما شئت

“Jika anda tidak punya malu lagi, silakan berbuat sesuka anda.”

Perhatikan pula, Syaikh al-Albânî pernah ditanya tentang penduduk kota-kota yang dikuasai Yahudi tahun 1948, di mana warganya dipaksa untuk mengikuti hukum Yahudi secara total di tempat itu. Maka al-Albânî menjawab:

“Apakah di Palestina ada desa atau kota lain yang mereka bisa melaksanakan agamanya? Dan menjadikannya sebagai negeri untuk menangkis fitnah? Jika ada maka hendaknya mereka hijrah ke sana tanpa keluar dari Palestina.”

Redaksi asli:

يقول الدكتور محمد شقرة: فلقد سُئل الشيخ – حفظه الله – عن بعض أهل المدن التي احتلها اليهود عام 1948م، وضربوا عليها صبغة الحكم اليهودي بالكلية، حتى صار أهلها فيها إلى حال من الغربة المرملة في دينهم، وأضحوا فيها عبدة أذلاء؟ فقال: هل في قرى فلسطين أو في مدنها قرية أو مدينة يستطيع هؤلاء أن يجدوا فيها دينهم، ويتخذوها داراً يدرءون فيها الفتنة عنهم؟ فإن كان؛ فعليهم أن يهاجروا إليها، ولا يخرجوا من أرض فلسطين، إذ إن هجرتهم من داخلها إلى داخلها أمر مقدور عليه، ومحقق الغاية من الهـجرة

http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=60147

Al-Albânî berfatwa bukan utk memerintahkan agar mereka lari seperti larinya para pengecut yang kabur dari peperangan, akan tetapi utk berhijrah dan i’dad, yaitu bertujuan untuk menyusun kekuatan memerangi musuh.

ويضع الشيخ قيدين لهذه الهجرة وهما ان تكون الهجرة بنية التأهب لقتال العدو وان يتحقق المهاجرون من ان البلد المضيف لهم سيسمح لهم بالاستعداد لقتال الاعداء – الشريط 730 من فتاوى الشيخ الألباني

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Pernah Berfatwa Seperti Ini Sebelumnya

Beliau pernah ditanya tentang penduduk Mardin (ماردين) sebuah negeri di Wilayah Syam yang dicaplok dan dikuasai kafir musuh Islam, apakah mereka wajib hijrah?

Maka syaikhul islam menjawab:

 “والمقيم بها إن كان عاجزاً عن إقامة دينه وجبت الهجرة عليه ”

“Orang yang mukim di tempat itu jika tak mampu menegakkan agamanya maka wajib dia hijrah.” (al-Fatawa al-Kubro, Ibnu Taimiyah – Dar al-Kutub al’ilmiyyah: 1408 H. Vol. 3 hal. 532.)

Semoga Allah merahmati syekh al-Albânî rahimahullah rahmatan wasi’atan.

Lucunya lagi, para pencela itu menqiyaskan kasus masjid Imam Ahmad bin Hanbal dengan masjid al-Aqsa? Analogi yang rusak alias qiyas fâsid. Alangkah benarnya pantun yang berbunyi:

Jaka sembung bawa kail…
Nggak nyambung wahai org jahil

Akhukum fillah,

Fadlan Fahamsyah

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*