Sadarilah Levelmu Bukan Level Kuotamu!

Dengan banyaknya informasi dan gampangnya mengakses internet. Betapa banyak orang yang gampang sekali memberi posting sana, debat sini. Dan tatkala disuruh untuk membaca Al-Fatihah dan surat dari Al-qur’an masih belepotan.

Kitab yang belum kita baca. Ribuan… Bahasa arab yang kita kuasai masih belum ada apa-apanya. Maka, sibukkanlah dengan belajar…belajar… baca dan baca…

Di antara sebab kurangnya dalam menuntut ilmu adalah terlalu fokus mencari berita masa kini (berita yang sedang update) dan mengetahui kenyataan yang ada.

Seseorang yang mengetahui berita saat ini terbagi menjadi tiga, yaitu orang berlebihan dalam mencari berita, orang yang terlalu menyepelekan dan orang yang pertengahan dalam mengetahui kenyataan yang ada.

Sesungguhnya menuntut ilmu menganjurkan dirimu untuk mengetahui peristiwa yang sedang terjadi, dikarenakan engkau tidak akan mampu mengobati masalah saat ini dan peristiwa yang terjadi pada zaman ini kecuali dengan timbangan syariat.

Adapun orang yang menjauhkan diri dari menuntut ilmu dan menghafal, dan terlalu fokus mengikuti perkembangan zaman dari koran, majalah, dan dia mengerahkan seluruh kemampuannya dan waktunya untuk membacanya kemudian dia mengambil pengobatan permasalahan saat ini dari pandangannya yang pendek (hanya dengan membaca surat kabar, majalah, atau berita di internet) tanpa kembali kepada ulama. Maka dialah yang akan merugi dan tidak mengetahu kadar penyesalannya kecuali setelah waktu yang telah lewat.

Sesungguhnya amatlah miris ketika engkau melihat pemuda-pemuda kaum muslimin dan dari orang yang cemburu atas kehormatan agama Allah dan dia mencucurkan air mata dan darahnya untuk membela kehormatan yang dilanggar. Bahwasanya dari sebuah aib dalam haknya adalah dia menyepelekan sebagian maksiat-maksiat seperti ghibah (menggunjing) dan namimah (mengadu domba).

Dan engkau akan melihatnya bahwa MEREKA KURANG DALAM HUKUM-HUKUM syar’i yang paling MUDAH. Dia shalat tidak shalat sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang beliau bersabda:

“Shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat”(HR Bukhari)

Dan dia tidak wudhu seperti wudhunya nabi, padahal beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang berwudhu sebagaimana apa yang diperintahkan (sesuai sunnah) dan shalat sebagaimana apa yang diperintahkan (sesuai sunnah) maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR Ahmad, An-Nasai dan ibnu majah)

Engkau akan melihatnya tidak mengetahui dzikir pagi dan petang, dan engkau akan melihatnya menyepelekan hafalan yang mudah sebelum yang susah. Maka inilah pintu perangkap syetan.

Dan sungguh Syaikhul Islam adalah orang yang paling mengerti peristiwa yang terjadi pada masanya. Dia adalah orang yang paling mengetahui apa yang terjadi disekitarnya, dan dia telah berdiri pada masanya menghadapi berbagai macam fitnah, masalah yang terbaru dan keadaan saat itu. Namun, beliau tetap menuntut ilmu dan mendapatkan limpahan yang sangat banyak dari ilmu.

Oleh karena itu ketika ada suatu peristiwa yang terjadi di dalam masyarakat maka engkau akan mendapatkan jawabannya di dalam Al-qur’an dan sunnah, atau di dalam ushul ilmi dan qowaidnya. Bagaimanapun zaman berputar, manusia yang beragam dan mereka saling berjauhan.

Maka sesungguhnya Allah ta’ala tidaklah menurunkan suatu penyakit pasti Dia menurunkan obatnya. Dan Dia tidaklah menurunkan musibah atau masalah kecuali di dalam Al-qur’an dan As-sunnah ada jawabannya. Ini adalah perkara yang tidak ada keraguan padanya.

(Ma’alim fii thoriqi thalabul ‘ilmi hal. 25-26)

Sadarilah, bahwa level tukang becak apakah akan bicara masalah politik sehingga ia seolah-olah adalah pakar politik. Dan level baru kenal ngaji apakah akan bicara tentang khilaf ulama sehingga dia merasa sudah tahu segalanya. Belajarlah karena ilmu itu bertingkat dan kenalilah level dirimu bukan level kuotamu…

-Arief Ziyad-

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*