Saudi Berhasil Menembak Jatuh Rudal Houtsi di Riyadh

Sabtu malam (4/11), pemberontak Syiah Al-Houtsi di Yaman menembakkan rudal balistik yang ditujukan ke Riyadh. Kejadian ini berselang beberapa saat, setelah Perdana Menteri Lebanon, Saad Hariri mengundurkan diri.

Usaha mematikan tersebut, berhasil digagalkan Pasukan Pertahanan Arab Saudi dengan menjatuhkan rudal di udara, sehingga tidak terjadi kerusakan dan korban jiwa.

Pasca suara ledakan keras pukul 20.45 malam, beberapa kendaraan darurat meluncur dengan cepat di jalur pacu R-33 di King Khaled International Airport. Otoritas Umum Penerbangan Sipil Aab Saudi mengatakan beberapa sisa-sisa rudal didapati di batas luar jalur penerbangan, namun tidak mengakibatkan kerusakan yang signifikan dan tidak menganggu penerbangan.

Berdasarkan laporan Al Jazeera, Houtsi meluncurkan rudal jenis Burkan 2-H yang dapat menempuh jarak 500 kilometer dari perbatasan Saudi-Yaman. Hal ini dipertegas sebuah pernyataan di saluran televisi Al-Masirah yang dikelola oleh Houthi. Mereka menyatakan bahwa rudal tersebut menargetkan bandara di Riyadh.

Houtsi yang didukung oleh Iran, telah meluncurkan 78 rudal ke Arab Saudi, termasuk salah satunya yang ditujukan ke Makkah pada bulan Juli lalu, sejak koalisi pimpinan Arab Saudi mulai membantu untuk mengembalikan pemerintah yang sah di Yaman pada bulan Maret 2015.

Kolonel Turki Al-Maliki, juru bicara koalisi, mengatakan bahwa rudal tersebut ditembakkan pada pukul 20.07 malam dan dicegat oleh sistem pertahanan Patriot. Beberapa puing-puing jatuh di daerah pemukiman penduduk di sebelah timur bandara, jelasnya lagi.

“Tindakan agresif dan sia-sia oleh milisi Houtsi ini, membuktikan keterlibatan sebuah negara – Iran – yang mensponsori terorisme dalam menyediakan milisi bersenjata Houtsi dengan kemampuan yang modern dengan melakukan pelanggaran yang sangat jelas terhadap Resolusi PBB No. 2216, yang mengancam keamanan Arab Saudi serta keamanan regional dan internasional,” Tegas Al-Maliki.

“Selain itu, menargetkan wilayah sipil adalah pelanggaran international humanitarian law,” imbuhnya.

Dr. Hamdan Al-Shehri, seorang analis politik Saudi dan ilmuwan hubungan internasional di Riyadh, mengatakan kepada Arab News: “Serangan rudal Houtsi, terjadi bertepatan saat Saad Hariri mengundurkan diri sebagai perdana menteri Libanon dalam sebuah demonstrasi melawan Hizbullah dan pemerasan Iran di Lebanon. Dapat dipahami ini sebagai tanda frustrasi Iran.”

“Iran dan Hizbullah memainkan permainan kotor dan berbahaya, mereka merongrong kestabilan kawasan tersebut.” Tambahnya.

“Kami tahu bagaimana mereka sebelumnya menargetkan kota suci Makkah; kini mereka menargetkan warga sipil dan bandara di ibukota Saudi. Mereka adalah mesin pembunuh dan tidak memiliki keraguan untuk menyerang orang-orang yang tidak bersalah.” Tegas Al-Shehri.

Dia juga meyakinkan bahwa serangan tersebut akan memperkuat keyakinan warga Saudi dan sekutunya. “Ini akan membuat kita lebih tegas melawan Iran dan Hizbullah dan wayang mereka, pemberontak Houtsi. Mereka membuka kartu kotor mereka. Arab Saudi akan membereskan mereka. Saat ini, tentunya, tekad Saudi akan semakin tegas.”

Kini saatnya masyarakat Internasional juga turut serta menghentikan ancaman rudal Houthi, kata Al-Shehri. “Mereka harus dihentikan dengan biaya apapun. Mereka tidak bisa bermain dengan stabilitas keamanan sebuah kawasan.”

“Mereka bermain dengan api, Perserikatan Bangsa-Bangsa dan dunia harus mengutuk serangan tersebut, dan tidak cukup hanya mengutuk, tapi menggunakan segala cara – diplomatik dan militer – untuk membawa Iran, Hizbullah, dan Huthi untuk bertekuk lutut.” Papar Al-Shehri. (Arabnews dan berbagai sumber)

Video yang viral kegagalan serangan Houtsi di sini.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.