Mengoreksi Sejarah Hubungan Wahabi-Turki Utsmani-Takfiri

Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah antek inggris yang berkontribusi menumbangkan Khilafah Turki Utsmani dengan ciri khas pemahaman ekstrimnya tentang masalah takfir, oleh karenanya anda bisa melihat dalam sejarahnya gerakan yang diprakarsai beliau ini lebih fokus memerangi orang-orang murtad ketimbang orang-orang kafir asli. Dan adanya ISIS hari ini adalah jelmaan dari manhaj dakwahnya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab yang ekstrim dalam masalah takfir dan meniadakan udzur jahl sebagaimana banyak disebutkan dalam kitab-kitabnya tentang masalah ini, sangat berbeda dengan manhaj yang dibangun oleh Syaikhul Islam ibnu Taimiyah yang mensyaratkan udzur jahl dalam memvonis kafir kepada seseorang yang terjatuh dalam kekufuran.

Begitulah kira-kira kesimpulan yang saya dengar dari seorang kawan dalam menganalisa hubungan antara Wahabi-Turki Utsmani-Takfiri. Tuduhan wahabi begini dan wahabi begitu sudah sangat klasik sekali bahkan sejak munculnya dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab pertama kali, tapi satu hal yang patut kita tanyakan sejauh mana kebenaran isu tersebut. Artikel ini adalah summary, copasan, hasil ber-googling ria dan sedikit menerjemahkan dari beberapa sumber karena banyaknya orang yang bertanya seputar hal yang sama, maka saya satukan saja semua artikel dalam bentuk catatan supaya lebih mudah jika ada yang bertanya lagi.

* Syeikh Abdul Aziz bin Abdul Lathif berkata : “Sebagian orang yang tidak menyukai dakwah salafiyyah mengatakan bahwa Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab memberontak kepada Khilafah Turki Utsmani, memecah belah umat dan menolak taat kepada pemerintah yang sah.” (Da’wah al-Munawi’in li da’wah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, hal. 233)

* Abdul Qodir Zallum, salah seorang pemuka Hizbut Tahrir berkata : “Inggris berupaya menyerang negara Islam dari dalam melalui agennya, Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud. Gerakan Wahabi diorganisasikan untuk mendirikan suatu kelompok masyarakat di dalam negara Islam yang dipimpin oleh Muhammad bin Saud dan dilanjutkan oleh anaknya, Abdul Aziz. Inggris memberi mereka bantuan dana dan senjata. Telah diketahui dengan pasti bahwa gerakan Wahabi ini diprovokasi dan didukung oleh Inggris, mengingat keluarga Saud adalah agen Inggris. Inggris memanfaatkan madzhab Wahabi yang merupakan salah satu madzhab Islam dan pendirinya merupakan salah seorang mujtahid.” (Kaifa Hudimat al-Khilaafah, hal. 10)

* Syeikh bin Baz berkata menanggapi isu ini : “Sejauh pengetahuan saya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab tidak pernah memberontak terhadap Kekhilafahan Turki Utsmani karena wilayah Najd pada saat itu tidak berada dibawah teritorial Turki Utsmani. Najd adalah negri kecil yang terdiri dari beberapa wilayah dan setiap wilayah mempunyai amir masing-masing. Jadi, syeikh Muhammad bin Abdul Wahab tidak pernah memberontak kepada Turki Utsmani, namun beliau berjuang melawan kerusakan di negrinya dan terus seperti itu sampai akhirnya dakwah beliau meluas ke wilayah-wilayah di sekitarnya.” (Da’wah al-Munawi’in hal. 237).

* DR. Salih al-Abud pun menjawab : “Najd tidak pernah berada di bawah teritorial Turki, tidak pernah terdengar ada Gubernur Turki Utsmani di wilayah tersebut dan juga pasukan Turki tidak pernah berada di sana selama masa Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab. Fakta ini didasarkan pada wilayah administrasi Turki Utsmani yang tersebar di beberapa propinsi melalui dokumen resmi Utsmani Qawanin al-Utsman Mudamiin Daftar ad-Diwan, yang ditulis oleh Yamin Ali Effendi pada tahun 1609. Dokumen ini menyatakan bahwa sejak awal abad 11 Hijriah Khilafah Utsmani terbagi menjadi 23 provinsi, 14 diantaranya terletak di jazirah Arab, dan Najd tidak termasuk kecuali wilayah al-Ahsa’, jika kita menganggap al-Ahsa’ adalah bagian dari Najd. (Aqidah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab wa atsaruha fii al-‘alaam al-Islami).

* Mahmud al-Istanbuli berkata menanggapi isu yang dilontarkan Abdul Qadir Zallum : “Penulis tersebut (Zallum) harus bisa membuktikan pendapatnya. Seorang penyair pernah berkata : “Jika klaim tidak didukung bukti, maka hanya orang bodohlah yang membenarkannya.”

Fakta yang sungguh ironis sang profesor menuduh gerakan dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab sebagai salah satu penyebab hancurnya kekhilafahan Utsmani, padahal gerakan dakwah ini muncul pada tahun 1811 M sedangkan khilafah Utsmani runtuh pada tahun 1922 M (Selisih 111 tahun). Kita harus mencatat sejarah bahwa Inggris justru menjadi oposisi da’wah ini dari luar, mereka khawatir dakwah ini bisa membangunkan kaum muslimin di seluruh dunia. Salah satu yang menjadi indikasi akan hal tersebut adalah ketika Inggris mengirimkan kapten Foster Sadler untuk memberikan selamat kepada Ibrahim Pasha dalam menumpas gerakan Wahabi di Dir’iyyah, sekaligus menjalin kerjasama untuk mereduksi paham Wahabi di Jazirah Arab. (Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab fi Mar’aat al-Sharq wal-Gharb, hal. 64 & 240).

* Syeikh Muhammad bin Mansur an-Nu’mani berkata : “Inggris membangun permusuhan yang jelas kepada gerakan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab. Di India, mereka menjuluki orang-orang yang menentang mereka dengan julukan Wahabi.” (Di’aya Mukaththafah Didd Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, hal. 105-106) [Sumber : http://islamqa.info/ar]

* Syaikh Muhamad Rasyid Ridhorahimahullah– berkata: Anda melihat dalam kitab-kitab sejarah modern, bahwa lafadz “al-wahabiyah” digunakan untuk menyebut para pengikut Syekh Muhamad bin Abdul Wahab ulama sunni pembaharu kebangkitan agama di Nejed yang terkenal itu. Dan penguasa al-Astanah ingin mengotori citra gerakan pembaharuan itu, mereka menyebarluaskan berita bahwa gerakan tersebut adalah gerakan menciptakan madzhab baru yang diada-adakan dalam Islam yang menyelisihi madzhab ahli sunnah wal jama’ah, dan mereka mempengaruhi para ulama dan mufti ahlussunah agar melakukan penolakan terhadap madzhab ini dan menyatakan sesat dan kafir para pengikutnya!

Dan mereka (para pengikut Syekh Muhamad bin Abdul Wahab) mengingkari setiap madzhab dalam masalah usul selain madzhab salafus soleh, dan mengikuti madzhab Imam Ahmad bin Hambal dan para pengikutnya dalam masalah furu’. Akan tetapi Daulah Utsmaniyah dan pemerintahan Mesir ketika itu lebih kuat dari mereka dalam menjelaskan kepada rakyat mereka bahwa mereka (kaum wahabi) menganut madzhab baru. [Selengkapnya: https://abangdani.wordpress.com/201…]

* Buku “Catatan Harian Sultan Abdul Hamid II” (terjemahan dari buku aslinya berjudul “Mudzakkiratu as-Sulthan ‘Abdul Hamid” oleh Dr. Muhammad Harb, Penerbit Pustaka Thariqulizzah, 2004), berisi semua kenangan dan analisis oleh Sultan Abdul Hamid II tentang situasi ketika ia masih menjadi khalifah hingga hari-hari terakhir menjelang wafatnya, yang ditulisnya di istana tempat ia diasingkan. Catatan harian tersebut terdiri dari 82 subjudul, sesuai dengan pokok-pokok pikiran yang hendak ia tulis. Dari jumlah subjudul tersebut kebanyakan adalah mengenai pergolakan politik di wilayah Turki (pada masa pemerintahan beliau dan sesudahnya) serta perang dengan bangsa-bangsa Eropa.

Ketika kami coba mencari tema tentang Jazirah Arab, yang ditemukan adalah subjudul “Jamaluddin al-Afghani” pada hal. 125. Isinya adalah sebagai berikut: “Telah sampai kepadaku sebuah tulisan yang dipersiapkan oleh Kementrian Luar Negeri Inggris tentang seorang pelawak yang bernama Jamaluddin al-Afghani. Inggris mengklaim bahwa orang tersebut bersama dengan Blant telah membuat pernyataan untuk menjauhkan Khilafah dari bangsa Turki. Dia juga mengusulkan kepada Inggris untuk segera mengumumkan Gubernur Makkah, Syarif Husain, sebagai Khalifah bagi kaum Muslimin.”

Di dalam catatan hariannya, tidak sekali pun Khalifah membicarakan soal Najd atau pun gerakan Ibnu Saud dan Wahhabi. Hal ini menunjukkan bahwa Najd, Ibnu Saud, dan Wahhabi sama sekali bukan masalah bagi Khilafah Islam pada masa pemerintahannya. Sebaliknya, sekarang kita mengetahui, bahwa yang menjadi masalah sebenarnya adalah poros Jamaluddin al-Afghani – Gubernur Mekkah Syarif Hussain – Inggris.

[Selengkapnya : http://abulailaabdurrahman.blogspot.co.id/…]

* Syaikh Malik Bin Husain dalam majalah Al-Asholah edisi ke 31 tertanggal 15 Muharram 1422 H, beliau berkata : “Saya telah meneliti kitab yang beracun dengan judul Mudzakkarat Hamver dan nama Hamver ini tidak asing lagi. Pertama kali aku membacanya di Majalah Manarul Huda, sebuah majalah yang diterbitkan oleh Maktabah al-‘Alaami yang staf redaksinya dari Jam’iyyah Al-Masyaari’ al-Khairiyyah Al-Islamiyyah pada edisi 28, Ramadhan 1415 H/1995. Majalah ini dikeluarkan oleh Jama’ah Al-Ahbasy, sebuah Jama’ah Sufiyyah berpangkalan di Yordania dan selalu memusuhi dakwah salaf dan para ulama’nya, dan mereka mendapat bantuan dana dari orang-orang Yahudi dalam operasionalnya.

Dengan mengikuti sejarah yang disebutkan di dalam mudzakkarat, nampaklah bagi kita bahwasanya Hamver tatkala bertemu dengan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, tatkala itu umur beliau kurang lebih masih 10 tahun. Ini adalah hal yang tidak cocok bahkan bertentangan dengan apa yang ada di mudzakkarat (hlm 30), bahwasanya Hamver berkenalan dengan seorang pemuda yang sering datang ke sebuah toko, dan pemuda itu mengetahui tiga bahasa, yaitu bahasa Turki, Faris, dan bahasa Arab, dan ketika itu ia sedang menuntut ilmu, dan pemuda dikenal dengan nama Muhammad bin Abdul Wahhab. Dan tatkala itu beliau adalah seorang pemuda yang antusias dalam menggapai tujuannya.

Dan engkau dapat merinci hal itu dengan dalil :

  1. Disebutkan di (hlm 13) : Kementrian Penjajah Inggris mengutus Hamver ke Asana (markas khilafah Islamiyyah) tahun 1710 M/1122 H).
  2. Disebutkan di (hlm 18) : Bahwasanya dia tinggal di sana selama 2 tahun. Kemudian kembali ke London sebagaimana perintah, dalam rangka memberikan ketetapan yang terperinci tentang kondisi di Ibu Kota pemerintahan.
  3. Disebutkan di (hlm 22) Bahwasanya dia berada di London selama 6 bulan.
  4. Disebutkan di (hlm 22) Bahwasanya dia pergi ke Basrah dan berada di sana selama 6 bulan. Di Basrah inilah dia (Hamver) bertemu dengan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rahimahullah-.
  5. Kalau dijumlahkan tahunnya maka dapat diketahui bahwa Hamver ketemu dengan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rahimahullah– pada tahun 1713 M atau 1125 H dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rahimahullah– lahir pada tahun 1703 M atau 1115 H. Jadi waktu ketemu Hamver umur Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rahimahullah– pada waktu masih sekitar 10 tahun. Dari sini dapat diketahui kebathilan dan kebohongan Mudzakarat ini.
  6. Disebutkan di dalam Mudzakarat hlm. 100, bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rahimahullah– mulai menampakkan dakwahnya pada tahun 1143 H. dan ini merupakan kebohongan yang nyata, karena Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rahimahullah– mulai menampakkan dakwahnya pada tahun kematian ayahnya yaitu tahun 1153 H.
  7. Sesungguhnya sikap pemerintahan Inggris terhadap dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rahimahullah– bukan sikap yang ramah dan bersahabat, tetapi sikap yang bermusuhan.
  8. Kita tidak menemukan kitab yang menyebut tentang mudzakarat ini sebelumnya. Dan musuh-musuh dakwah syaikh yang mubarak ini selalu menjelek-jelekkan dakwah ini, menisbatkan semua kejelekan kepadanya, dan anehnya hal ini baru dikeluarkan pada waktu akhir-akhir ini. Hal ini jelas menunjukkan kebohongan dan kedustaan mereka.
  9. Hamver adalah seseorang yang tidak diketahui (tidak dikenal), mana maklumat yang menjelaskan tentang dia (hamver)? tidak ada!!! Bahkan tidak ada maklumat dari pemerintah Inggris yang menjelaskan tentang tugasnya hamver ini.
  10. Orang-orang yang membaca mudzakarat ini pasti tidak menduga kalau yang menulis ini orang nasrani, karena banyak ibarat/perumpamaan yang menikam agama Nashrani dan pemerintahan Inggris.
  11. Dua naskah terjemahan dari mudzakarat ini tidak menyebutkan tanda-tanda yang jelas mengenai kitab (mudzakarat yang asli), dan ditulis pakai bahasa apa ? sudah dicetak atau masih dalam bentuk manuskrip? itu semua tidak jelas.
  12. Penerjemahnya pun tidak diketahui orangnya, pada naskah yang pertama tidak disebutkan sama sekali tentang penerjemahnya. Begitu juga pada naskah yang kedua.
  13. Pada naskah terjemahan yang kedua dijelaskan tanggal penerjemahannya yaitu : 25 ‘haziran’ 1990. Apakah perkara yang sepenting ini dibiarkan begitu saja ? tidak ada yang mengetahui kecuali setelah 199 tahun kematiannya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rahimahullah-.
  14. Kedua naskah itu sepakat bahwa tanggal 2 Januari 1973 pada akhir dari mudzakarat itu. Dan apa yang dimaksud dengan tanggal ini saya tidak tahu? apakah ini penulisan mudzakarat hamver ini (seperti yang nampak) ? Dan ini membuktikan kedustaan mudzakarat ini, bahwa wafatnya syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah 179 tahun setelah tanggal yang disebutkan itu.
  15. Semua yang ada di kitab-kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab membantah semua yang ada di muzakkarat ini.
  16. Sesungguhnya keberadaan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwah beliau sudah merupakan bukti yang cukup kuat untuk membantah apa yang disebutkan di mudzakkarat. [Selengkapnya : http://almanhaj.or.id/content/827/s…]

Saksikan di bawah ini, video menjawab syubhat: “Gerakan dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah gerakan pemberontakan kepada Khilafah/Daulah Utsmaniyyah.” Disampaikan oleh Syeikh Muhammad bin Hadi alMadkhali dan Syeikh Muhammad Nashiruddin alAlbani.

Dikumpulkan dan diterjemahkan oleh: Ince Ahmad Jibril (dengan perubahan judul & editing seperlunya).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*