TKW, PLRT dan Pribumi

“Jadi, kami bersepakat bahwa moratorium pengiriman PLRT dari Indonesia ke Saudi tidak akan pernah dicabut. Ini keputusan terbaik. Ke depan akan di bangun sistem baru dimana ekspatriat Indonesia yang bekerja di Saudi harus berdasarkan jabatan-jabatan tertentu,” ujar Hanif dalam keterangan tertulis Selasa (17/10/2017).

Kutipan di atas, terkait dengan berita penandatanganan kesepakatan antara Menteri Ketenagakerjaan RI M. Hanif Dhakiri dan Menteri Ketenagakerjaan dan Pembangunan Sosial Saudi Arabia Ali Bin Nasser Al-Ghufais di Jeddah, Senin (16/10/2017).

Bangsa kita sejatinya sudah mafhum, terbiasa merubah istilah untuk esensi yang sama, bahkan terkesan pembodohan dan menjerumuskan. Sebagai contoh WTS (Wanita Tuna Susila), PSK (Penjaja Seks Komersial), tak lain adalah pezina. Golongan menengah bawah, untuk memperhalus sebutan kaum papah fakir miskin. Bunga di bank, tidak menggunakan riba bank, mengapa? Tak lain untuk mengelabui dan menjerumuskan ke perbuatan yang dimurkai Allah Taála.

Untuk itulah, ada curiosity yang membayangi dengan istilah Menaker untuk warga Indonesia yang bekerja di Saudi berdasarkan jabatan-jabatan tertentu. Jika yang dimaksudkan tidak mengirimkan TKW (Tenaga Kerja Wanita) tetapi PLRT (Penata Laksana Rumah Tangga), apa bedanya? Oh, moratorium PLRT tidak akan pernah dicabut, ila yumil qiyamah, kata Menteri. Baiklah, yang akan diekspor bekerja ke Saudi adalah pejabat. Kita tunggu, jabatan apa saja yang tertentu tersebut? Semoga bukan yang dimafhumi kita semua tentang tahrif sebuah kata untuk makna yang sama.

Secara bersamaan, di Tanah Air, tepatnya di pusat Ibu Kota, istilah pribumi sedang naik daun. Yang paling merasa (baper) nonpribumi adalah warga keturunan Cina (Tionghoa). Padahal, kata pribumi belum tentu diartikan orang selain China, karena di negeri kita banyak keturunan Arab, India dan lainnya. Uniknya, Cina paling baper.

Bisa jadi, ini karena fakta, bahwa mereka kurang layak dikategorikan sebagai pribumi. Sementara orang Arab misalnya, kedekatan dan penerimaannya di Tanah Air lebih baik. Bisa jadi, karena faktor kesamaan agama dan interaksi sosial di kehidupan masyarakat.

Jadi, apa sebenarnya arti pribumi? Adakah terjadi peyorasi bagi sebagian orang yang bukan dianggap asli penduduk Indonesia? Yang pasti, kata pribumi belum ada rekayasa kata lain, kecuali istilah bumiputera yang banyak digunakan padanannya sebelum perang. Tidak seperti TKW, Asisten Rumah Tangga, PLRT atau yang memiliki jabatan tertentu? Maafiih ma’luum…… 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*